Geni Plumeria

Gara-! kau harus melihat secara nyata pemandangan ini bersamaku secepatnya

Sebuah pesan masuk melalui notifikasi ponselku diikuti lampiran gambar landscape Distrik Ruga dari atas bukit. potret pemandangan yang sering dikirim oleh Geni setiap kali melihat hal indah di tempat barunya.

Ini sudah delapan belas bulan sejak mengenalnya.

Namanya Geni.

Geni Plumeria. artinya ‘api bunga kamboja’

Tetapi aku tidak melihat api dalam bola matanya. ataupun nyala dalam dadanya. seharusnya ia kupanggil Plumeria saja. raut sendu lebih melekat pada wajahnya. seperti bunga kamboja yang tumbuh di banyak latar pemakaman. karena bukan pada kemegahan hidup manusia, Plumeria adalah wujud keindahan dalam kesederhanaan. menghias apik ruas bumi yang sering terkubur banyak pengharapan.

Jika kalian bertanya apa hobi Geni? ia suka menulis. itu memberi ruang pada kebiasaannya berkhayal setiap sempat. meski pandai menyembunyikan rasa penasarannya pada orang lain, hasrat Geni bertanya tentang kehidupanku tak dapat dibendung. sehingga jika Geni berpikir aku memberikan telingaku, itu karena ia terlebih dahulu telah memberikan telinganya. bukankah seorang pendengar juga butuh pendengar juga ?

Sebelum mengenal sosok Geni, aku sering terpikat jatuh cinta pada ide tentang seseorang. ilusi itu merekatkanku pada perwujudan excitement hanya sekadar untuk memvalidasi egoku. ternyata jatuh cinta seperti itu awalnya memang sudah salah. karena dari awal sudah banyak berekspektasi. mendambanya dengan banyak definisi. lucu rasanya jika aku hanya memikirkan diriku sendiri dan ide tentang seharusnya orang itu menjadi. sedang ia adalah individu. entitas yang memiliki kehendak bebas.

Kehadiran Geni membawa warna baru dalam lembar kehidupanku. ia menawarkanku intimasi. sesuatu yang sudah lama hilang dariku. kebanyakan orang berpikir bahwa intimasi selalu tentang sentuhan fisik. tapi sesungguhnya intimasi adalah ketika kau menyadari bahwa kau bisa leluasa memberi tahu orang itu perihal rahasiamu. ketika kau jujur menjadi dirimu sendiri. ketika kau tidak segan mengakui kesalahan dan kekalahanmu. dan dari semua standar itu, momen bersama Geni adalah intimasi yang tidak pernah kutemukan dari diri siapapun.

Sebentar! apa ini salah? tidak. hanya ingin mengenang perjalanan memahami Geni.

Siang itu langit mencatat pertemuan kami kali pertama. Geni mengenakan blouse berwarna cinnamon dan celana boyfriend hitam serta sepatu converse bercorak hitam-putih. seorang pengamat yang teliti akan paham bahwa jiwa yang menghuni tubuh perempuan ini,  adalah jiwa yang tidak hangat sama sekali. bagaimanapun juga, aku berusaha mengumpulkan nyali untuk berbicara padanya terlebih dahulu. tidak ada tanggapan berarti selain anggapan bahwa suaraku tak lebih dari angin lalu. 

Keesokan harinya; seusai meminta bantuannya mengambil potret, aku memperkenalkan diri. ia mengaku bernama; Geni. hari-pun berselang, dari lantai tiga sekolah Kriya Marga aku belum melihatnya keluar dari perpustakaan. ketika itu cuaca gelap dan sebentar lagi gedung akan tutup. aku bermaksud mengunjungi perpustakaan, memastikan bahwa Geni tidak ketiduran di dalam. saat berpapasan, terlihat Geni masih celingukan di ruang sirkulasi. tangannya membopong dua buku tebal bersama laptop dengan ekspresi kebingungan. dari tebakanku, Geni akan meminjam buku namun petugas di ruangan sedang kosong. lantas aku mencari petugas dan mendapati  beliau di lantai empat.

Sebelum bertandang ke perpustakaan, aku sengaja membawa payung karena dipastikan akan turun hujan. aku jadi teringat kalimat dari seseorang berbunyi seperti ini ;

For lonely people, rain is a chance to be touched”.

Aku mencoba akrab dengan Geni. menawarinya agar mau membawa pulang payung milikku. aku tahu akan tertolak. entahlah! aku tahu akan seperti itu. mungkin jika aku sedikit cool dan tidak begitu memaksa Geni mau menggunakannya. dan syukurlah, ia mau menerimanya.

Saat lewat di depan toko bunga, aku ingin membeli bunga dan memberikan pada Geni. tapi itu konyol sekali. yang ada nanti malah aku dijauhi. jadi kubeli bibit bunga angelonia dan menawari agar kami menanamnya. kami sedikit bercengkerama lalu akhirnya memutuskan untuk memasak bersama. menikmati hidangan makan malam pertama kalinya. mencintai proses dan tidak suka terburu, begitulah kesanku pada Geni Plumeria.

Aku sempat bertanya-tanya “Jika aku tertarik pada Geni karena ia punya hal-hal yang tidak aku punya, jelas itu bukan cinta. aku tidak menilai seseorang berdasar apa yang dikatakan orang lain. tentu saja! karena aku ingin mengenal Geni lebih jauh dan mendalam. itu adalah keputusanku sepenuhnya. hanya menunggu izin masuk darinya”

Mencintainya tak harus menjadi siapa untuknya. aku tahu Geni dingin dan keras kepala. tetapi aku juga melihat ada sisi lembut dalam dirinya yang tidak akan ia ungkapkan dalam bentuk kata-kata. tidak! aku yakin tidak akan mendengarnya mengucapkan kalimat romantis padaku. setidaknya demikianlah keyakinanku kala itu. kecuali jika menyelami dengan “dalam”. sisi gelap, dingin dan datar akan sirna. digantikan oleh kelembutan yang misterius milik Plumeria miliknya. tanpa jaminan bahwa kami akan tetap saling menyapa. dengan kesempatan yang ada; aku menyadari adanya kesediaanku memahami Geni. mengimbangi keunikannya, menyambutnya seusai bersunyi sepi juga mendengarnya bercerita kapan saja.

Dan ketika kami memutuskan untuk saling belajar “bahasa kasih” kami masing-masing; menandakan adanya persetujuan bahwa kami bersepakat dan bersedia untuk tumbuh bersama.

***

Hari ini aku berencana menemui Geni. ada cuti dari pekerjaan selama tiga hari. aku berniat menggunakannya untuk mengobati perasaan rindu. bukankah jika kita sudah mempunyai rencana maka tak perlu repot membuat pilihan? jadi kubeli sebuah tiket kereta ke Distrik Ruga. aku berangkat cukup pagi. tak kurang setelah sang fajar menyongsong permukaan bumi. perjalanan ini akan menempuh waktu enam jam lamanya. 

Kereta melaju kencang bagaikan hari ini adalah satu-satunya hari di bulan ini yang paling aku nanti; yakni bertemu Geni. kemarin aku sudah mengabari Geni perihal kedatanganku. hal itu lebih diapresiasi daripada harus memberinya kejutan tiba-tiba. dari balik jendela kereta, aku menikmati suguhan pemandangan menuju Distrik Ruga. terentang panjang di antara pohon kayu cemara yang menaungi bahu jalan dan ceruk kecil tempat edelweiss tumbuh liar. hamparan padang rumput menurun di kejauhan, menggaris bawahi horizon awan berwarna mutiara keputihan. 

Di dalam kereta, aku membuka galeri foto di smartphone. terpampang beberapa foto kami berdua di album yang menunjukkan momen ketika kami berada di sebuah festival musim panas di Prefektur Carva. layar visual dari smartphone menampilkan sosok Geni pada saat itu mengenakan dress berwarna hitam dengan pita rambut bercorak rosybrown. Geni duduk menghadap ke arah laut sementara rambutnya setengah terurai dikibas oleh angin. wajahnya menyimpan banyak rahasia. aku teringat beberapa potong percakapan kami hari itu.

“Gara, bagaimana jika suatu hari aku pergi?”

“Ke mana?”

“Meninggalkanmu. saat penasaranku usai dan tidak lagi menginginkanmu.”

“Haha, kalimatmu terkesan selama ini sudah menggunakanku”

“Apa kenyataannya aku terlihat seperti itu? jujur saja”

“Andai suatu hari Geni benar-benar meninggalkanku karena sudah tidak penasaran lagi. lalu berakhir membenciku. maka aku hanya akan mendoakanmu”

“Mendoakanku?” jawabnya sedikit terkejut

“Benar. mendoakan yang baik untukmu, kesehatanmu dan kehidupan barumu”

“Kau tidak meminta hal buruk pada Semesta agar menimpaku?”

“Hahaha” aku sempat tertawa kecil waktu itu. 

“Jika pada akhirnya dengan kebencian saja sudah membuatmu terluka dan menderita, bagaimana mungkin aku mendoakan hal-hal buruk pada orang yang menanggung luka dan derita sepanjang hidupnya ?”

Kami lama terdiam setelah itu. hanya deru ombak dan tiupan sepoi angin memecah hening di antara kami. kemudian Geni kembali dari dunia khayalannya dengan terkejut dan mendesah;

“Bolehkah aku memelukmu, Gara?”

Aku menghela napas sembari membenarkan kacamataku. diam-diam aku menyukai sifat penuh kasih Geni yang impulsive. yang mungkin menjadi alasanku menjawab dengan sedikit kaku.

“Aku tidak pandai memeluk seseorang”

“Kau tidak perlu mahir ketika memeluk seseorang. aku hanya ingin memelukmu saja”

Mulutku terkatup. tidak dapat berkata-kata. dari luar aku terlihat membeku namun di dalam seakan meleleh mendengar jawabannya. aku mendekap tubuh Geni. bisa kuingat rasanya setiap tulang, urat, dan saraf dalam tubuhku menguap hangat. pelukan Geni menentramkan. mirip jiwa bunga camellia yang penuh kasih sedang mekar di musim semi.

“Gara?” bisiknya mendekati telingaku. 

“Aku sangat menyayangimu” ujarnya kala itu.

Pernah Geni mengatakan bahwa mengenalku seperti pekerjaan baru yang stabil dan agak membosankan. tetapi dalam kestabilan itu justru banyak fenomena baru yang tidak ia dapati ketika menyendiri. bagiku sendiri Geni seperti kotak misteri dengan rangkaian puzzle di dalamnya. ketika satu-persatu sudah kususun agar menjadi sebuah mahakarya, Geni justru seakan meruntuhkannya. Geni sepertinya bertekad menyembunyikan perasaan dibalik ketidakpedulian yang sangat dalam. tetapi ia tidak boleh terus menutup hati dari penyembuhan yang ditawarkan oleh semesta alam.

***

Aku tiba di stasiun Kota Ruga yang rapi dan teratur. peron stasiun tidak begitu ramai, tidak seramai kota Aprha tentunya. Geni mengantarkanku ke penginapan terdekat dari kediamannya. aku istirahat sebentar dan sorenya Geni menjemputku untuk berkeliling di Distrik Ruga.

“Bukankah ini sangat indah?”

Aku mengangguk. tentu saja ini surga bagi seorang Geni yang mencintai alam.

Kami mengunjungi perpustakaan di atas bukit  yang kerap dikunjungi Geni di sela luang waktunya. mata kami memandang mesra pemandangan Distrik Ruga persis dengan potret yang dikirimkan oleh Geni padaku beberapa tempo lalu.

Kenapa orang-orang tidak mau melihat hal baik yang ada di hadapannya? karena mereka berpikir masih punya waktu untuk itu nanti.” aku mendengar Geni bergumam pelan. 

“Apa kau lelah?” tanyanya seketika memperhatikan wajahku.

“Tidak. semua terbayarkan bertemu denganmu dan tentu saja suguhan landscape indah ini.”

“Aku ingin ke sisi bukit sebelah barat. besok kita piknik ke sana ya?” ajaknya dengan samar.

“Baiklah; apapun untukmu” aku tersenyum mengusap rambutnya.

Geni adalah seorang yang tidak suka keramaian. ia terlihat lebih sering menyendiri dan selera humornya gelap. Geni kerap menertawai lelucon yang menurutku aneh dan ganjil. sedangkan aku sendiri, mereka menyebutku ramah dan cukup peka terhadap kebutuhan orang lain. mengenal Geni membuatku tersadar karena ia pernah mengatakan padaku bahwa:

Gara, keramahan yang sebenar-benarnya adalah ramah yang tidak berkepentingan. selain menerapkan nilai kebajikan.” aku mencoba mencerna apa maksudnya. aku tidak akan menyangkal bahwa ada maksud baik dalam perkataan Geni. ternyata; Geni tak ingin aku terlalu memaksakan diri terhadap segala sesuatunya dan lebih percaya diri terhadap apa yang kulakukan tanpa pamrih sekalipun.

Keesokan harinya sesuai rencana. aku dan Geni berjalan ke bukit bagian barat sambil membawa seikat daisy. Geni mengenakan gaun pendek berwarna sandcastle serta topi bucket hat. dengan membawa keranjang mini berisi semangkuk panekuk, beberapa potong buah dan minuman rasa almond. Geni tampak manis dibalut pakaiannya yang feminin.

Kami menyisir pelan jalanan setapak menuju puncak bukit berlahan hijau. sekitarannya dipagari oleh pohon-pohon akasia rindang dengan dahan-dahan yang membentuk sebuah kanopi. bunga hydrangea bertebaran di samping tanaman lantana yang tersembunyi. Geni mematahkan ranting plum liar yang menyapu sisi atas kepala kami. aku mengulurkan tangan pertanda “butuh bantuan?”. Geni menggeleng. kakinya lincah menari menuju pohon swietenia yang cukup lebat. di sebelahnya terpampang hamparan bunga hutan yang dikenal rapuh dan juga pemalu dengan hiasan putik yang sedikit pucat; bunga lonceng bulan juni. setelah menyusuri lajur berbukit cukup panjang, akhirnya kami berhenti di bawah pohon sycamore.

Aku bermaksud memecah keheningan. menyimpulkan keterpanaanku seraya menyuarakan barisan sajak dari sastrawan Sapardi Djoko Damono;

Aku akan menyayangimu, seperti kabut yang raib di cahaya matahari. aku akan menjelma awan, hati-hati mendaki bukit agar bisa menghujanimu pada suatu hari baik nanti.”

Geni tersentak. terbangun dari khayalannya. menatapku dengan tatapan menerawang. ekspresinya mewakili sebuah jiwa yang baru saja selesai menjelajah ke bintang. ia mengatakan kalimat yang tampaknya muncul dari lubuk hati terdalam.

“Gara! kau tahu apa yang akan terjadi jika secara konstan menyakiti seseorang? awalnya mereka akan menjauhimu lalu mengurangi intensitas perasaannya padamu. beberapa waktu kemudian, mereka akan mulai lupa bahwa mereka pernah mencintaimu. sejujurnya, aku takut menjadi seperti itu padamu Gara, sungguh!” suara Geni sedikit gemetar. lalu ia melanjutkan. 

“Aku rasa selama ini, caraku mencintaimu dengan intensitas Gara. kadang penuh, kadang juga kosong. berbeda dengan caramu yang dominan dengan konsistensi. maaf jika porsi hubungan ini kadang menjadi tidak seimbang.”

Aku menggenggam tangan Geni. ia menyandarkan kepalanya di bahuku. dapat kurasakan kelembutan angin sore menyambut kehangatan kami. suasana seharusnya syahdu, tetapi aku merasakan ketakutan akan kehilangannya suatu hari.

“Geni. aku tidak keberatan dengan warnamu. jangan menekan dirimu seolah kau pendosa. bagiku kau cukup dan berarti ! mari saling merangkul perbedaan preferensi dan value kita.”

Pucuk spruce menjulang tinggi ke angkasa yang merona seperti marigold. lembayung keunguan mulai menghiasi langit senja dan tanaman lilac merebak dalam keremangan jingga. gumpalan awan menari seirama dengan suasana khidmat menyambut datangnya malam. di langit barat daya yang tak ternoda, sebuah bintang putih bersinar; menyerupai kristal bening yang menawan. kehadiran bintang putih itu bagaikan sebuah pijar yang menuntun langkah dari kegelapan. 

Setidaknya; di dunia ini, ada beberapa orang yang bisa kita cintai begitu saja tanpa sedikitpun kesulitan. dan ada beberapa orang yang membuat kita harus berusaha sangat keras untuk mencintainya. tetapi satu hal yang pasti, bahwa tidak seharusnya terlalu 'dalam' mencintai sesuatu yang fana. mencintai seorang Geni menguji pedoman hidupku itu. jadi ku-ikrarkan di bawah naungan pancaran rona langit sore itu;

Semesta; demi langit dan bumi. aku mencintai mahluk fana milik-Mu ini. jaga jiwanya; dan perhatikan tumbuh-kembangnya jika aku sudah tiada di sisinya lagi suatu hari

Aku tidak tahu kapan Geni akan meledak suatu waktu. mungkin akan begitu. tapi aku berani bersumpah jika Geni mengenali dan menerjemahkan bahasa-pikiranku dengan saksama; baik kusut atau tenang sepenuhnya. menebak hatiku yang sedang gundah-gulana menjadi begitu mudah baginya. kabar baiknya, Geni bukanlah tipe orang yang gemar menyuplai masalah atau drama.  

Tetapi; ada satu hal yang orang-orang pada umumnya tidak tahu dari manusia seperti Geni. bahwa orang yang sangat baik, lembut dan penuh kasih adalah orang yang juga memiliki sisi bengis yang sama ekstremnya dengan yang ditampilkan. jangan mengira pengendalian diri mereka sebagai kelemahan. sebab monster dalam dirinya sedang tertidur bukan mati.

***

0 comments:

Post a Comment

My Instagram