J u n e ; Bloom

“Pergilah dengan tenang; di antara kebisingan dan ketergesaan. dan ingatlah ketentraman yang ada dalam kesunyian. kau adalah anak dari semesta. tidak kurang dari pohon-pohon maupun bintang-bintang di langit. kau punya hak untuk tetap di sini.”

-Puisi Desiderata, Max Ehrmann

Juni; Delapan.

Lama aku mencari matamu. tempat lautan lelap tertidur. sepasang mata yang berbinar. memukau bak kejora. meneduhkan padang oasis sepi bumantara. tidak ingin aku mempercayai bahwa kau banyak bertumbuh dengan lara. apa-apa yang kau angankan pernah jatuh. tetapi kini kau lebih sigap menangkapnya.

Lama aku mencari tanganmu. berbalut kasih tak terhingga. memberi tanpa pamrih, namun kadang enggan menerima. tanganmu yang meraih biru milikku. pernah kutangisi tentang tanganmu yang telah kau potong agar tidak menggapai kesempurnaan milik manusia. menemukan dirimu yang baru membuatku berbeda mendefinisikannya.

Lama aku mencari bibirmu. senyum yang menggenapkan sinar dari purnama. melelehkan hati yang seperti mati rasa. lama aku mencari tubuhmu. aroma yang bersembunyi entah di mana sebelumnya. di pusat rasa; aku pernah melihatmu luruh dan membiru.

Lama aku mencari telingamu. tempat menyimak paling nyaman. rumah yang tidak pernah kau sambangi adalah dirimu sendiri. siapa yang akan mendengarkanmu? sekali lagi! siapa yang akan memberikan telinganya untukmu? 

Lama aku mencari kedua kakimu. yang selalu kau tutupi dengan langkah ragu. masih terngiang perihal kengerian menghidupi kekonyolan manusia. namun percayalah, sudah lama aku ingin melihatmu sebagai bentuk keindahan. sesuatu yang tak butuh banyak persetujuan.

Lama aku mencari hatimu. yang kau sembunyikan di balik sifat keras kepalamu. kau tidak salah sayang, menjadi pemerhati yang seolah tidak peduli tapi diam-diam menarik makna paling dalam. 

Sorot lembut matamu melelapkan samudera. kau terlahir dari koral, ikan dan batu-batu di lautan. belum ada yang bisa mencairkan hatimu yang batu. 

Kerapuhan mengutuhkanmu. membumi bersama serpihan pulih milikmu. bintang telah menemukan harapan yang menggelora di balik laut pasang. amarah yang biasa kau binasakan menamparku;

Aku tersadar; hanya butuh setitik terang untuk mengakui adanya lukamu, sayang.

Selamat ! Selamat ! sekar mawar sudah terbayar. sekarang, bunga telah mekar. 

Mekarlah sayang. teruslah menebar wangi pada sumbat yang manusia ingkari. jika itu membuatmu bahagia, seni milikmu tak harus diakui adanya.

Mekarlah sayang. jika rapuh dan riuh sudah kau kebumikan. mahaduka sudah kau kemasi. teduhmu masih terasa asing menyoraki. maka biarkan.

Darah dalam tubuhmu, sungai dalam dadamu, api dalam heningmu, beku dalam riuhmu.

Bukankah ada segenggam perasaan hangat dari bulan? dari setiap kesederhanaan yang kau sebut cinta?

Karenanya; jangan padam segera.

Sayangku! ketika kau menemukan tempat rebahmu. bermuaralah menuju duapuluh lima.

Selamat beranjak dewasa ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram