Rembulan telah kembali dari gulita; menjelma sebagai ampunan pada
genangan dosa dan remuknya jiwa.
Menyaksikan manusia malang berambutkan
frasa. menekuk lutut dan bersujud. sembari memejam mata dengan tangan mengatup.
menjerit kesakitan di malam buta. meminta supaya ringan rela melepaskan
kepergian dan kehilangan. meminta supaya kekosongan dan kehancuran lekas
berbenah dengan segera.
Rembulan menyambi; menjelma menjadi api. tepat di atas jasad manusia sunyi-sepi.
Merajut benang kerinduan yang membumi. sebab sudah membiru tubuhnya dikuliti. sudah habis jantung-hatinya dikeroyok tangan mati.
Tetapi masih sudi setia merapalkan doa. menjaga erat milik rahasia.
Dari batu yang pendiam atau anak pegunungan yang penyayang; hutan hujan yang rindang; biru langit dengan luas terbentang; bahkan nisan dengan taburan kembang menyerukan;
Agar setiap mata segera berbasuh
Agar mahaduka menjadi sembuh
Agar kesesatan lekas berlabuh
Agar kelembutan kembali utuh
Manusia masih sibuk merapikan
jarak. melipat warna hingga serbuk menua. kisah pilunya tak
lebih mengoyak serpihan aksara. lingkarnya menghitam menanggung sukacita. tetapi sepanjang hidup dipenuhi tanda tanya;
“Di mana aku Semesta? di mana bisa kupakai kaca untuk melahirkan cerita?”
Rembulan menyisir lekukan perih di kuntum malam. membelah cahaya bagi yang tak berumah.
Karena; ia akan mengantarmu pulang. jikapun manusia tak beratap?
Rembulan akan meneduhkan; berpelukan kunang-kunang ~
0 comments:
Post a Comment