Puri Bumi

Di bumi yang kita tinggali, ada sebuah puri. sehelai kamboja mengayunkan pesona sendunya. kesederhanaan-nya menghias apik bumi pemakaman. menemani tubuh manusia dalam merangkul kedukaan dan kehilangan. kamboja selalu mengingatkan kita akan kematian. sesuatu yang sejatinya kita sebut pulang. sebuah perasaan sederhana yang menawarkan perasaan aman dan tenang. 

Semesta yang maha pengasih lagi maha penyayang. sungguh saya lelah menangisi ketidakpastian. tolong jauhkan saya dari keinginan melambungkan harapan kepada manusia. jagalah hati saya tetap utuh. biarkan saya melangkah dengan kekuatan dan keteguhan prinsip yang saya yakini."

Semesta yang maha pengasih lagi maha penyayang. kau tahu benar kedalaman luka yang pernah saya alami. mencintai namun dicaci maki. memberi segalanya dan tetap diingkari. lalu berharap seseorang mengobati luka hati. sungguh engkau sebaik-baiknya penglihat. tolong jauhkan saya dari segala sesuatu yang tidak baik untuk diri saya di masa depan. hindarkan saya dari segala bentuk kesia-siaan. berikan saya pengampunan yang cukup. berikan saya keluasan dan kelapangan jika pada akhirnya hubungan dengan seseorang tidak berakhir bersama.”

Semesta yang maha pengasih lagi maha penyayang. jangan biarkan saya terjerumus pada nafsu mengejar kenikmatan dan pesona semu duniawi. jangan biarkan saya menangisi segala sesuatu yang sudah kau ambil. segala sesuatu yang sudah kau jauhkan dan sesat sifatnya. saya berlindung kepada-Mu, dari jiwa yang gemar menyakiti. juga tabiat serakah yang kerap menghinggapi rongga hati. untuk hati yang mudah tergores dan terluka; tolong berikan hati baru yang kuat dan sedikit rapuhnya. hati yang cukup memberi tanpa mengharap kembali. hati setulus ibu dalam mencintai.

Semesta yang maha pengasih lagi maha penyayang. sesungguhnya hati ini terasa sudah mengeras. tolong berikanlah kelembutan. izinkan saya menerima diri saya dengan penuh. menyayanginya tanpa meminta suatu kelebihan lagi karena sudah cukup kau memberikannya. tolong jauhkan saya menjalin ikatan dengan manusia yang tidak setia. dari manusia yang hanya menjadikan saya pelampiasan nafsu dan egonya. dari manusia yang menuntut dan menekan saya menjadi manusia sempurna. tolong jagalah saya dari segala marabahaya. sungguh engkau sebaik-baiknya pelindung.

Semesta yang maha pengasih lagi maha penyayang. berikanlah saya perasaan cukup. dermakan kebaikanmu mengasihi manusia seperti saya. jangan membuat saya terpaku pada kedukaan yang menimpa dan biarkan saya mencintai takdirmu sebagaimana adanya.

Demikian bunyi catatan yang pernah saya tulis beberapa bulan lalu. Semesta seolah sekali lagi mendengar dan mengabulkan doa saya di malam panjang. ia mempertemukan saya dengan bintang baru di luasnya jagat raya. seorang anak dari manusia.

Saya sempat bertanya. anak siapa ?

Anak siapa yang Semesta titipkan pada saya? membuat saya ingin mengasihinya layaknya seorang ibu? padahal saya tak punya banyak. saya sadar ia akan pergi jika yang saya beri kurang. saya tahu ia akan pergi jika mulai melihat satu persatu kerapuhan dan kelemahan. saya tahu ia akan pergi jika ternyata diri saya tak seindah ekspektasi.

Anak siapa yang Semesta titipkan pada saya? membuat saya tidak ingin meninggalkannya sendiri. membuat saya ingin terus memberi. membuat saya belajar membuka hati. anak siapa gerangan yang semesta telah titipkan pada saya tiga bulan terakhir ini? saya sudah pernah begitu jatuh. mencintai mahluk fana bernama manusia tanpa sedikit balasan rasa. hati saya sudah cukup besar memaafkan dan menerima.

Lalu? anak siapa yang kini Semesta titipkan pada saya? membuat saya mereda rasa sakit yang pernah ada. menjadi pelipur bagi malam yang biasa saya sebut duka. apa saya berlebihan? apa saya hanya merasa kesepian? sehingga orang berlalu lalang saya namai jembatan? Semesta, apakah anak ini akan tinggal? atau hanya sekadar mencari hiburan?

Lalu anak siapa yang telah Semesta titipkan pada saya?

Mengabulkan pinta harap yang lama pernah saya tangisi? mengucapkan selamat malam dan selamat pagi. memberi saya hadiah ulang tahun. menemani saya memasak di dapur. memaklumi kebiasaan tidur saya. menunggui saya sepanjang waktu. membuat saya mengenyahkan besar ego. anak siapa yang terlihat merasa cukup? membuat hati ini bergetar hangat. apa anak ini cukup meyakinkan untuk dipercayai?

Bagaimanapun juga sikap keibuan ini kadangkala mati. saya juga ingin dilindungi, dikasihi, dicintai dan ditunggui. bohong jika tidak. bohong jika saya bilang baik-baik saja. bohong!

Jika pada akhirnya anak ini juga memilih pergi atau Semesta mengambil titipan miliknya setelah saya sangat menginginkannya tetap tinggal; saya hanya mengenang pernah menjalin hubungan baik dengan anak ini. karena bahkan anak yang sudah sangat menyakiti saya di masa lampau, mendoakan hal-hal buruk saja rasanya tidak sanggup. hanya berusaha memaafkan dalam diam dan mengemasi luka diri.

Saya sadar banyak wujud definisi “kesempurnaan” di luar sana. namun jika anak ini legawa menerima kecacatan yang saya punya. jika anak ini tidak mempermasalahkan celah kekurangan. jika anak ini merasa cukup dengan pemberian. jika anak ini tak tertekan dengan sulitnya penerimaan; saya akan berusaha tetap menjadi ibunya.

Merawatnya, mengasihinya, menyayanginya selama napas hidupnya.

Perasaan yang pernah datang itu mirip sekumpulan anak kecil dengan berbagai tabiatnya. anak kecil yang membunyikan lonceng untuk bertamu. menyantap kudapan sambil memandang sekitar. merasa cukup lalu pamit. anak kecil yang menemukan buku. melihat sampulnya yang menawan, membaca bagian depan tapi tak pernah tertarik menuntaskannya hingga akhir lalu memilih untuk pulang.

Anak kecil yang mengetuk pintu kemudian lari setelah terbuka namun masih saja berani kembali. anak kecil yang tetap berdiri di depan pintu, menghalangi anak-anak lain untuk bermain. tak lain agar si empu tetap sepi. anak kecil yang bahagia tinggal di dalam. menunggu sambil menghibur si puan. ada juga anak kecil yang sengaja bersenang-senang dengan menghunuskan pisau ke jantung saya. membuat tubuh saya berlumuran darah. banyak rupa anak kecil. tapi sejauh ini sudah cukup memaklumi. berikan apa yang mereka inginkan, lalu lihat mata mereka berbinar seperti ketika menyalakan kembang api.

Jadi; jika ada seseorang yang bertanya apa saya menginginkan satu dari mereka untuk tinggal? maka saya akan menjawabnya dengan merangkul hangat mereka satu-persatu sekali lagi. lalu membisikkan kata "Terima Kasih". melepaskannya dan membiarkannya pergi. karena dewasa ini, cukup mengherankan jika ada anak yang masih mau tinggal. masih mau berbagi dengan semua kekurangan, kepayahan dan hal tidak sempurna lainnya. 

Dari seorang gadis yang terbiasa mencintai luka, dipeluknya erat, diciumnya hangat. dibisiknya;

“Kuat-kuat karena hidup juga butuh kelembutan seorang petarung” ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram