S a k a !

When the darkest part of you meets the darkest part of me, it’s creates light – Coco Mellors

S a k a !

September tahun ini; aku ingin memperkenalkanmu dengan seseorang yang kukenal pada bulan Mei, bulannya Bunga Lily.

Seseorang bernama Saka !

Saka adalah sosok yang Semesta titipkan untuk tinggal setelah beberapa lama aku berusaha menyembuhkan diri. sosok yang menyambutku setelah pulih. yang kehadirannya membuatku mencintai takdir yang semesta gariskan untukku. aku bahkan tidak berencana mencintai Saka sama sekali. tetapi semua dibayar sempurna oleh waktu.

Mari, ku ceritakan tentang Saka !

Saka adalah pribadi yang sederhana. pemikirannya cenderung pragmatis dan tidak rumit. sebuah pemikiran yang juga sedang aku pelajari dalam proses menjadi seorang stoic. Saka gemar mengenakan kaos oblong, jaket berwarna merah dan topi jika bepergian. Saka berambut hitam-ikal. matanya agak sipit dengan alis tebal membingkai wajahnya yang manis. bibir Saka tipis dan hidungnya mancung. ketika Saka berbicara padaku suaranya lembut. kulit Saka sawo matang dengan jemari yang dibalut kuku panjang di area kedua jempol dan kelingking.

Wajah Saka menyenangkan dipandang. bagian yang paling aku suka adalah matanya. seperti tercipta dari sapphire berwarna hitam. mata Saka teduh sekaligus redup. jika melihat lebih dekat; dari hitam bola matanya itu, aku seolah bisa merasakan gelombang euphoria yang akan mencair di dasar hatiku yang membatu. tatapan Saka setenang samudera, tapi aku seolah bisa mendengar riuh badai yang lama terpenjara. sedang tawanya seperti metaphor yang coba aku kenali aromanya. kadang-kadang aku berusaha tidak tenggelam pada kelembutan tatap-nya yang seolah berbisik bahwa ia akan mencintaiku saat itu dan seterusnya.

Saka dan aku terlahir di bulan yang sama. yakni, Bulan Juni. Saka lebih awal dua hari dari tanggal lahirku. awalnya kami hanya saling menanyakan tahun kelahiran, lalu bulan kami kebetulan sama. dan ketika ia berkata tanggal kelahirannya sama dengan tanggal kelahiran Bung Karno, aku membalas dengan mengatakan bahwa tanggal kelahiranku sama dengan Pak Harto ! sontak, hal itu kami tertawa bersama. kebetulan yang menyenangkan !

Aku bergurau padanya bahwa kita sama-sama bisa merayakan meriahnya puisi Pak Sapardi, Hujan Bulan Juni.

Saka lebih tinggi beberapa centi dariku. kami saling asing sebelumnya karena tidak pernah benar-benar berbicara. baiklah! mungkin sebentar saja. seperti saat kami bertukar nomer telepon atau pernah suatu kali mengucap beberapa kata saat aku menawarkan telur mata sapi ketika berbuka puasa. bahkan setelah saling bertukar pesan lewat whatsapp, aku dan Saka masih jarang bertemu dan berbincang. kami mulai akrab karena Saka tidak menyerah menghubungiku. ia menghadiahiku tas manis berwarna beige dan menyerahkannya saat aku baru bangun tidur beberapa hari setelah peringatan ulang tahunku. 

Sama sepertiku, Saka juga suka sesuatu yang manis. jadi tidaklah sulit menentukan kudapan kecil sebagai bentuk kasih kepadanya. kucing adalah binatang kesukaan Saka. ia kerap menjadikan kucing sebagai model fotonya. karena berjiwa seni dan kreatif, hasil karya fotografinya mengesankan. 

Saka menyenangkan diajak berbicara. ia telaten mengajakku ngobrol dan aku sepertinya nyaman membuka rahasia. terutama banyaknya luka yang pernah tertoreh. kenapa? karena aku merasa didengarkan olehnya. aku merasa Saka berusaha sebaik mungkin memberikan telinganya. ia mencoba memposisikan dirinya pada kondisiku dan memberikan wejangan tanpa terkesan menggurui.

Saka bukan manusia sedikit kata. tapi bukan juga manusia banyak acara. ia sederhana, kau dengar? ia benar-benar definisi manusia sederhana dan apa adanya.

Saka sudah lama kehilangan ibunya. ia tumbuh besar bersama bude yang sudah ia anggap ibu kandungnya sendiri. ayah Saka menikah lagi dan Saka memiliki beberapa saudara tiri. Saka bercerita padaku bahwa ia rindu ibunya. maksudku, makam milik ibunya. biasanya setiap malam jum’at ia datang berkunjung. berhubung karena sedang jauh, jadi ia tak dapat bertandang ke sana.

Aku kira kau juga tahu? orang tua kita memang bukanlah sepasang kesempurnaan. semua yang berada di luar diri Saka, sama sepertiku. bukan kami yang memintanya. kami bahkan tidak bisa meminta terlahir dari benih dan rahim siapa. aku rasa Saka juga tahu. semua lebih lapang dengan amor fati. Saka memiliki kesanggupan menerima cacat-celah, merah darah, pahit-getir, cerai-berai ketidak-sempurnaan orang tua.

Aku melihat kebesaran hati Saka melapangkan bentuk lajur jalannya sebagai anak. bagiku, Saka adalah anak yang tegar dan tabah. aku ingin mengasihinya. sungguh! selama yang aku bisa. ada banyak luka dan liku pada garis hidupnya. dan kau tahu bukan? manusia dengan kemalangan yang perih rentan singgah ke dalam hati? Saka juga sebuah luka. dan aku mencintai manusia dengan banyak luka pada hati dan kisahnya. ada tempat istimewa di hatiku untuk orang seperti Saka!

Satu hal yang kusuka dari Saka adalah caranya berbicara. baik padaku maupun pada ibuku. nada bicaranya sopan dan lembut. aku senang memanggilnya dengan sebutan “Dear” lewat pesan sebagai ungkapan kasih. Saka kerap menggunakan panggilan itu ketika kami tengah memasak bersama. benar! Saka dan aku sering memasak bersama. sudah beberapa menu yang sudah kami coba hidangkan. coba ku ingat-ingat apa saja di antaranya;

Sepertinya tidak mewah tapi baiklah! ada sup ayam, tahu bulat, tempe goreng, tumis tahu, tumis kentang, tempe kecap, telur dadar, sayur bening. dan apa kau tahu? Saka-lah yang menghaluskan rempahnya. kadang ia juga yang mencuci piring dan membereskan peralatan seusai memasak. hahaha! aku sungguh merasa perlu berterima kasih atas kontribusinya di dapur.

Saka adalah tipe anak yang tidak bisa memakan nasi atau makanan panas. jadi ketika hendak makan; Saka menunggu nasi atau lauknya dingin terlebih dahulu barulah bisa menyantapnya. kau tahu? apapun yang aku masak atau hidangkan, bahkan jika rasanya sangat amburadul, Saka selalu mengatakan rasanya pas dan enak.

Hei… rasanya benar-benar bertemu perasaan diterima

Di saat yang lain; aku menamainya saat terguncang. pada bulan ketiga aku mengenal Saka. saat itu kami tengah memasak bersama. Saka seolah bisa membaca pikiranku yang sedang kusut. Saka dengan suaranya yang lemah lembut membujuk agar aku mau berterus terang kenapa lebih banyak diam. ia menatapku sembari matanya melihat ke arah mataku. ingin ku-abaikan secepatnya. tapi mata Saka terlalu lugu untuk dilewatkan begitu saja. matanya seperti langit malam berbintang di tengah gurun pasir. aku merasa ada jutaan kerlip bintang hidup di sana. memanggilku dengan perasaan penuh menyentuh ruang sunyinya.

Kau tahu? Saka merasa aku marah padanya. ia menyalahkan dirinya sendiri dan bahkan meminta maaf kesalahannya selama ini. rasanya kasihan sekali. tapi sesungguhnya yang terjadi saat itu adalah; benar bahwa saat itu aku dilanda masalah. tapi untuk sementara yang ku-butuhkan adalah ketenangan diri, termasuk mendiamkannya barangkali. Saka menjauh tetapi tidak pergi. ketika aku sudah mulai merasa tenang. Saka berusaha mendekat kembali. mengajakku bercengkerama, tertawa seperti semula. kami larut dalam keheningan masing-masing. 

Tapi Saka? apa kau sadar? untuk sebentar aku terpana. pada tatapanmu yang seteduh rimbun pepohonan kala ditiup angin? rindang pucuk ranting yang memukau mata ketika musim dingin? matamu bak rembulan. lembut, memukau dan kesepian.

Saka mewakili keindahan yang kusukai dari kehidupan. jika kau bertanya kenapa? itu karena aku hampir menyukai semua yang ada pada raga dan jiwanya. Saka seperti seikat dandelion penuh ketulusan. terbang di luasnya ilalang yang melahirkan harapan. dan aku suka caranya melesat ke tanah. membumi bersama serpihan hati.

Aku menginginkannya! teramat menginginkannya untuk tinggal dan memelukku beberapa lama. dari Saka-lah kata “cukup” terdengar di telinga. ia melihatku sebagai manusia yang punya cacat-kurang dan lemahnya. Saka memberiku waktu. sesuatu yang kadang aku butuhkan ketika teramat kalut dan penuh tekanan. dari kejadian itu aku sadar;

Kadang seseorang perlu diberitahu terlebih dahulu agar mengerti. bukan memintanya menebak keinginan dan isi kepala kita.

Berkat sikapnya yang lembut dan penuh kasih, kami perlahan akrab kembali. Saka bukan tipe orang yang suka membalas dendam. meski sudah berperilaku sedikit kasar padanya, ia memaafkan! dan sungguh ! ia tidak pernah lagi membahas kejadian yang sudah berlalu.

Beberapa minggu setelahnya; aku kembali memasak sup bersama Saka! sup ayam, dengan telur dadar dan tempe goreng. seperti biasa, Saka banyak berkontribusi. ia mengupas kulit kentang dan wortel, menghaluskan bumbu sup-nya. membuat adonan dan menggoreng tempe, lalu mencuci piring. kami banyak bercanda. aku bahkan menyuapkan sesendok sup untuk dicicipi. hehehe! Saka terlihat seperti anak kecil ketika mencicip supnya.

Di satu malam panjang di penghujung Bulan Agustus; aku dan Saka duduk bercengkerama dengan waktu yang cukup lama. kami duduk di ruang tengah. Saka memberiku sekotak susu dari kulkas sedang ia menyeruput teh yang dibuat oleh ibu. Saka mencurahkan dan aku mendengarkan. aku bertanya dan Saka menjawabnya. kami duduk takzim hingga larut malam. sementara hanyut pada suasana hening dan tenang. energiku seolah terisi dan nyawaku bersenandung khidmat menyambut suaranya yang memecah ruang atap bimasakti.

Aku mengelus rambut Saka untuk kali pertama. rambut ikalnya! telapak tanganku menyentuh permukaan rambutnya yang tampak lebih pendek dan rapi dari sebelumnya. ya! benar. Saka memangkas rambutnya, dan jujur saja ia terlihat jauh lebih tampan. seraut wajahnya yang sendu membuyarkan lamunanku. suara lembut yang mengudara itu samar-samar sampai di telingaku seperti sebuah ajakan yang memungkinkanku menahan kantuk. benar! untuk malam itu aku terus ingin menatapnya meski rasanya mata teramat ingin beristirahat lebih cepat. 

Saka dan aku bersenda gurau layaknya dua anak kecil. pandanganku jatuh pada sikapnya yang hangat. saat aku mengungkap pesona rupanya, Saka nampak tersipu. menjelang semakin larut; Saka masih bersemangat berbincang. dibanding aku yang pasif dan lebih nyaman mengungkapkan perasaan lewat pesan. mungkin inilah saatnya aku menyisihkan telinga kepadanya. di akhir obrolan, kami berencana kembali memasak bersama di akhir pekan ini. sambil mengangguk setuju, kami mengakhiri obrolan malam itu.

Empat bulan sejak mengenal Saka! berawal dari keperluan yang mengharuskan kami bertukar kontak. Saka konsisten menghubungiku setiap hari. kabar adalah satu hal yang langka kudapati dari seseorang denganku dahulu. bahkan jika aku yang terus memulai semua komunikasi, seseorang tidak menganggap penting sama sekali. dari situ aku menyerah. membiarkan segalanya sejadi-jalannya. aku merasakan effort Saka yang berusaha terhubung denganku. usahanya merebut perhatianku patut diapresiasi. pasalnya, aku? setelah patah hati dan terluka beberapa waktu sebelumnya, memilih semakin selektif dan membatasi lingkar interaksi.

Kau tahu? Saka anak baik. ia membuatku sedikit banyak percaya bahwa aku juga layak dicintai. sebuah perasaan yang belum kutemui dari banyak manusia yang pernah aku sukai. tidak banyak perasaan berdebar. tidak banyak penasaran. aku benar-benar membiarkan semua mengalir apa adanya. menanggalkan rasa candu dan menggebu yang biasanya. aku sadar, pada Saka ! aku nyaman menjadi diri sendiri.

Dan pada Saka! aku sadar bahwa sebelum mencintainya; aku sudah terlebih dahulu menemukan diriku sendiri. aku sudah selesai melepaskan ikatan yang mendarah pada sekat leherku. aku berhenti menyayat lengan milik sendiri. aku berhenti bersandar pada ilusi dan bayang semu. aku beranjak pergi dari kesia-siaan yang meleburkan tidurku. dari kesakitan yang amat dahsyat hari itu. aku biarkan kenyataan yang meluluh-lantakkan itu menyadarkanku dari keterpurukan.

Saat aku memilih menepi. menerima fase berduka, menerima dan mencintai diri sendiri.  Semesta menghadiahkan kehadiran Saka padaku. hadirnya membawa canda, tawa, harap dan bahagia. kadang, aku membatin pada diri sendiri;

Hei… beginikah rasanya dicintai? diinginkan dan dikasihi?” karena sepertinya, tidak akan banyak yang memperhitungkan gadis berhati dingin sepertiku.

Dan hei.. Saka? apa  yang kau lihat dariku ?  

Kuberi tahu, terlalu banyak keindahan dalam tabah dan rapuh Saka. terlalu banyak kekaguman pada pribadinya yang mandiri dan sederhana. dalam diri Saka, terlalu banyak kebaikan dan ketulusan yang sifatnya seakan abadi. terlalu sayang rasanya ditinggalkan karena Saka adalah anak kecil yang membuatku nyaman menjadi diri sendiri.

Bagiku; saat ini Saka adalah secarik jiwa yang lama aku rindui.

Saka adalah  tentang seseorang.

Tentang makna dari keberadaan seseorang. tentang arti kehadiran seseorang. tentang perasaan, tentang keinginan, tentang pengharapan, juga tentang doa-doa yang dilangitkan. Saka adalah tentang kesembuhan, tentang keluasan dan kelapangan, juga tentang keseimbangan.

Mungkin suatu hari tentang Saka bisa menjadi tentang kehilangan, tentang kepergian, tentang satu dari deretan luka lainnya. karena, meski suatu hari Saka akan membuatku tenggelam. aku rasa sudah selalu siap naik ke daratan;

Sebab; pada Saka, aku membawa keseimbangan hati dan logika ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram