Nepenthe


Riak mengalir. bisakah kau sudahi lagak patahmu ?

Kau menemukanku. persis di antara jutaan bintang gugur di bulan haru. pelik menukik, mengambang di antara seberkas awan. kau menemukanku tersungkur di tebing paling curam. kau meraih tanganku yang keras kasar dan penuh kerutan. membelainya sehalus rembulan. menggenggamnya sehangat kasih mentari pada ibu bumi.

Dan! kau menemukanku. sekarat. terbujur bak mayat.

Kau! kala itu ibarat lagu yang mengalun merdu. aku nada menyayat kalbu.

Menemukanku? apakah pekerjaan yang rumit?

Aku menunggumu begitu lama. sejak usia yang belum bijaksana. kau mendatangiku dan tidak pernah menjanjikan apa-apa. tapi kau memberi segala apa yang kau cinta.

Kejernihan matamu menerjemahkan ketenangan. hening! seperti malam telanjang dengan angin lembut musim. aku terkilir! jatuh pada dekap pelukmu. aku terkesima, membungkam suara.

Jadi, dengan apa kau akan menjabarkan kepingan ini? karena garis itu mewujudkan mimpi.

Kau duduk manis seperti anak kecil. pikiran liar mendorongku untuk mengelus rambutmu. membelai wajahmu, meraba alismu, merekam tawamu dan membelai jemarimu. kau membalasnya dengan penuh kasih. kau membuatku merasa ceria dan bahagia. klasik ! tapi bagiku, itu istimewa.

Kau menyentuhku. telapak tanganmu yang halus dan selalu hangat.

Merinding romaku. aku sedikit meragukannya! aku takut larut pada imajinasi di kepalaku. tidak! yang kutahu kau aman. ketakutan itu sirna kala kau mulai menguar satu-persatu keluhmu. kau hanya anak kecil yang butuh kasih. dan sungguh aku mengasihimu sebanyak yang kupunya.

Kau meletakkan kepalamu di pangkuanku.

Meremas lembut jemari tanganku. meletakkannya di wajahmu sembari menggenggamnya mesra. kubilang tanganmu lebih hangat dan kau membalasnya bahwa suhu tubuhmu selalu seperti itu.

Kulihat sebelah matamu memerah. rupanya kau menahan kantuk. “aku sudah tidur di pangkuanmu, cantikku” ujarmu dengan mata tertutup. 

Sayang?” katamu mengalun pelan di tengah bias malam.

Aku menunduk. mengusap rambutmu bak anak kesayanganku. rambutmu yang ikal dan telah kau pangkas sehari setelah aku memintamu. kau tahu? kau membuatku menyayangimu. dan itu tidak terjadi begitu saja. kau mengajariku cara mengasihimu lewat perlakuanmu yang teramat mengesankanku. kebiasaanmu menempelkan dahimu ke dahiku. menekannya lembut sembari matamu tersenyum bak bulan sabit kesepian.

Dengan kepala mendongak, matamu bertemu mataku. apakah ini kesalahan? atau kebetulan? aku mengulas senyum tipis untuk mencairkan suasana. kau berkedip bak bintang jelita. kau bilang; tatapanku selalu tajam. kurasa; kau melihatku sebagai sebuah ketegasan. begitu bukan?

Wangi aroma tubuhmu menempel di blouse milikku. jemarimu memenuhi celah jemariku. mengatupkannya seperti bunga putri malu. terasa berdetak. kurasakan denyut nadimu seraya terpejam manis di pangkuanku. perlahan tanganmu melingkar lembut di pinggangku. satu di antaranya mengelus halus punggungku. kepalamu mendekati kepalaku. membelai rambut milikku dan menatapnya sejenak. aku bisa merasakan detak jantungmu mengisyaratkan kegugupan.

Kuraba bibirmu yang ranum. juga kumis tipis di atasnya. kusentuh dengan hangat lehermu. mengusap punggungmu yang membelakangiku. kau mengalungkan kedua tangan di leherku lalu menurunkannya ke pinggangku. mendekapku lembut. aku begitu nyaman dalam dekapanmu. saat melingkarkan tanganmu di pinggangku; diriku merasa aman. aku kembali membelai rambutmu seperti anak yang lugu, “Sayangku? aku mengasihimu

Bulanku yang dingin dan membeku; kehadiranmu mengubahnya menjadi hangat. terima kasih Semesta; memberikanku kesempatan untuk merawatnya, walau tidak lama.  

Beberapa detik berlalu; ragamu kian letih. aku membiarkanmu melepas kesadaranmu dengan tetap menggenggam jemariku.

Aku suka caramu mencintaiku. tenang, perlahan, dan penuh kasih. kau menunjukkan perasaanmu melalui tindakan, sentuhan, dan layanan. setiap kali merasa dicintai, aku lupa akan semua rasa sakitku. kau tabah dengan amarahku. kau bijak dengan sifat kekanakanku. tapi kau juga berusaha mencairkan diamku. kau beri aku warna biru; penuh dengan ketenangan khas euphoria.

Kau boleh selalu menyentuh jemariku. menempelkannya pada wajahmu yang menghangat. aku menikmati momen mengasihimu. sebaliknya, tetaplah jadi anakku. membiarkanku mengusap rambutmu. mengelus pundakmu dan mendengarmu berceloteh sepanjang waktu.

Terkikis menit; kau meniti wajahku. mencermatinya lekat. di sana! kau sudah menemukan banyak kurangku.

Berulang kali; tetap saja kau tidak meninggalkan aku dengan segala cacat-lemahku. melalui catatan kecil ini, aku ingin berucap kata sederhana penuh syukur karena mengenalmu;

Terima kasih, manusia kesayanganku

0 comments:

Post a Comment

My Instagram