Saat kau menunjukkan hatimu; orang lain
mungkin akan mengoyaknya, meludahinya, menginjaknya. menganggapmu sebagai
pendosa yang tak layak mendapat pengampunan. maka, kau memilih untuk menyimpan
saja di dalam dan birunya samudera.
Saat kau menunjukkan hatimu; orang lain
mulai melancarkan tujuannya. sorak sorai ramai mereka gemakan untuk mengambil
secuil atau bahkan seonggok kebaikan yang kerap kau dermakan. kau sadar tengah
disetir. kau sadar tengah dipermainkan. tetapi menikmatinya dengan senyum tertawan.
Saat kau menunjukkan hatimu; perihal
menertawai kepergian sudah lumrah kau piagamkan. karena hal itu hanya satu
dari banyak ritual bagi manusia berperasaan.
Namun, sayang ?
Kau diam-diam juga merindukan ketulusan.
sebuah perasaan putih yang sudah sangat jarang mengemuka di bumi ini. kau
merindukan hadirnya seberkas afeksi dan antusias yang terasa nyata tanpa
pamrih. persis dengan bayangan yang ada di kepalamu selama ini. dari hatimu
yang membatu, kau ingin seseorang berbalik mengasihimu.
Jadi, kau membuat pembelaan. karena;
“Entah anak baik atau bukan. bagimu
sendiri manusia yang sering dirundung kemalangan mempunyai tempat istimewa di
hati”
Sekali lagi kau membuat pembenaran bahwa;
“Bukankah rambut kita akan memutih?
kulit kita akan melepuh? ingatan kita mulai memudar? pada liang lahat tubuh
kita akan bersemayam? hanya perihal waktu, karena hidup akan berjalan patuh
menuju tua dan kelabu”
Bulan berhati dingin menemani sunyi-sepi.
angkasa dengan kerlip berpendar senantiasa melahirkan bintang-bintang. langit
merekah dengan warna pucat perlahan gugur di ambang maut. lalu raga milik siapa yang
meraung kesakitan? jiwa milik siapa yang digerogoti kesengsaraan?
Walau mungkin dengan tidak menujukkan
hati tetap saja lambat laun kau akan dihapus dari sisinya. lambat laun juga
kau akan menemukan bagian baru dari kehidupanmu. cukup hari itu saja kau
teramat membenci dirimu sendiri. sungguh cukup hari itu saja. ya?
Ronamu cukup menunjukkan keengganan.
apa kau terlalu terburu mengejar kefanaan? seperti membiasakan diri lenyap di
antara kebisingan. anak-anak yang kau rawat, pada akhirnya melukaimu.
menancapkan belati tepat di dada sebelah kiri; tempat biru bertumpu. menambah
deretan luka dan trauma.
Anak-anak malang yang tidak pernah mau
berdamai dengan lukanya. mencari kesembuhan tapi menularkan rasa sakitnya. kemudian
melarikan diri. namun kau tetap mendoakan kebajikan. sehat selamat pulih kalian
bermuara; anak-anak yang beratapkan rembulan untuk pulang.
Ingatkan agar jangan mereka sengaja
berdiri di hadapan pintu! masuk tidak masuk; keluar tidak keluar. menghalangi
lintas orang-orang. jangan berani datang ke sini! mengetuk pintu lalu
kembali bersembunyi. jangan tunjukkan wajah ingin dikasihani! jika asih
yang sudah itu dengan sadar mereka ludahi. jangan biarkan mereka mengusik
ketenangan milikmu! untuk perilaku mereka yang abu-abu.
Hanya saja sudah usai. kau mengambil
tiket pergi yang mereka beri. pesanmu; jangan bermandikan penyesalan dengan
senyum tertawan. karena demi langit dan bumi walau berhenti; tiada membenci.
Kau bisa merasakan sebagian dari dirimu adalah kedukaan dan kemarahan. kadang kau gemetar menjemput 'tua'. merasakan tangan yang dingin membuka lembar-lembar puisi yang sudah pudar. kau membakar perasaanmu; habis menjadi abu. sayang menjelma benih; tumbuh dan mekar di gersang hatimu.
Kau sadar betul bahwa hati hanyalah kumpulan kepingan; tetapi keberadaan jiwa itu eternal.
Kau lelah menjerit dalam hening. kau
lelah berontak dalam serak. kau tidak ingin dilihat tatapan getir. tidak juga
ingin dicemooh dengan bahasa satire.
Pijak belah bumi utara! dengan segala
kerendahan hati, memintamu datang segera!
Sesungguhnya, kau juga sudah muak dengan
seluruh tanya dan kabut melankolia ~
0 comments:
Post a Comment