Tumbuh menjadi dewasa. melihat segalanya lebih terang dan lamban. begitu cepat melewatkan usia transisi remaja menuju dewasa. kemarin, ini adalah tubuh perempuan yang dulunya bekerja keras agar dicintai. namun dalam hatinya kelelahan dan membenci dirinya sendiri. cangkang yang berwujud perempuan ini membuang semua pantas dan gengsi. mudanya sibuk mengejar validasi dan membuang energi hanya karena ingin merasa menang dan diakui.
Kejadian romantis yang ingin kukecap menguap entah ke mana. perjalanan terjal dan berliku, hidup mengajarkan arti menjadi kuat dan tangguh. aku memimpikan saat-saat dicintai oleh seseorang suatu hari. bentuk cinta yang tulus dan sederhana. tak perlu beragam kemewahan yang berlimpah. memberiku kepercayaan dan mempercayainya itulah yang utama. ia akan menjadi rumahku berikutnya, tempat menumpah kesah. tempat berbagi kisah, tempat mengungkap resah, dan tempat sepanjang hayat bersinggah.
Aku menjadi lupa pada kodratku yang seharusnya duduk dan menunggu. memperjuangkan seseorang bukan tugas perempuan. itu yang tidak pernah mau aku akui. energi maskulin yang dominan membuatku angkuh dan selalu mempertahankan harga diri. kelembutan dan kasih sayang tak pernah nampak. yang ada hanya unjuk kebolehan dan keunggulan. berapa banyak orang yang sudah kubuat terluka? aku yang tidak pernah ingin dikalahkan akhirnya dicambuk oleh Semesta dengan jatuh kian dalam pada manusia.
Sampai aku menyerah setelah diludahi. semua amarah dan pasrah kemudian aku sudahi. menerima lebih lapang. beberapa orang memang terlahir menjadi jahat dan kejam. tangannya tak cukup berlimpah kasih untuk berbagi. tak peduli seberapa banyak yang kita beri, akan selalu ada celah mencederai. butuh ketabahan hati luar biasa menerima kekalahan dan kegagalan kala itu.
Kemudian aku lari. menjauh dari pusat energi. menetralkan emosi dan menyadari telah merobohkan tembok prinsip selama ini. aku meraih sisa-sisa kemanusiaan dalam diri, menyusunnya sedikit dari reruntuhan kemarin hari. namun di manapun aku bersembunyi; Semesta melihatku meringkuk sepi seorang diri. aku akan menunggu kelak dikirimnya seseorang yang tidak pernah kusangka bahwa seterusnya kucintai.
Akan ku-tajamkan nalarku. ku-tinggikan egoku. ku-gunakan penuh logikaku. ku-perkuat benteng pertahananku dengan harapan ia tak bisa masuk lewat celah manapun dalam hatiku. tapi ia tak akan pergi. justru dengan tabah menemaniku sembuh. mengajari-ku membuka jendela jiwa yang baru. pada saat aku berada di fase pulih, ia akan menunjukkanku arti ketulusan dan ketabahan yang dalam.
Aku berbicara tentang seseorang. ia yang akan menggenggam tangan kasar dan tebalku seraya berkata “kau gadis petarung yang luar biasa.” pria yang menatapku selembut rembulan seraya bergumam “kau cantik dan menenangkan!” ia memberiku kekuatan untuk merangkul seluruh kelemahanku. pria yang sadar dengan rupaku yang tak jelita tetapi berkata “kau sempurna, sayang.”
Aku tidak ingin kehilangannya nanti, sungguh. aku tidak ingin lagi mengalah dengan sengaja pergi. aku tidak ingin pula bersaing dengan egoku untuk tetap memenangkan hatinya. aku tidak ingin melepasnya untuk melihatnya bersama dengan orang lain. untuk sekali ini, aku benar-benar menginginkan seseorang tetap tinggal. menjadi bagian dari hidup tua dan panjang.
Jadi, biarkan kelak! menemani sembuh dan tumbuh bersama.
Kesadaran itu akan menjadi titik awal memulai perjalanan baru dan panjang. jalan yang ditumbuhi oleh seluruh penerimaan, pengampunan, dan keseimbangan.
Jalan
yang membuka jendela jiwa untuk hidup selaras dengan hukum alam ~
0 comments:
Post a Comment