K i t a

Kita adalah dua orang yang berbeda. aku dengan ego dan keras kepalaku, lalu kamu dengan kelembutan dan ketabahanmu. ini sudah masuk bulan ke-sembilan kita berkenalan. menyelami pemikiranmu yang tidak rumit tapi cenderung misterius juga ternyata menyita energiku.

Kita tidak akan sepaham bukan? tapi kita berusaha saling memahami. kau kadang letih dengan sifatku dan aku kadang lelah dengan sikapmu. tapi tetap saja, masing-masing dari kita tidak memilih opsi menyerah bukan?

Kita berjalan jauh, tak terasa tumbuh bersama. kau melengkapiku dan aku mengisi kekuranganmu. kita saling bertaut, tapi bisakah lebih terbuka lagi? sangat pedih rasanya tidak diberikan kepercayaan mendengar ceritamu. kita berdua pernah saling mendiamkan. tapi bukankah kita sering mematahkan aturan untuk orang yang kita cintai? hanya saja pintaku bahwa jangan memaksaku mengambil keputusan selamat tinggal. sebab berat rasanya melangkah dari sesuatu yang benar ku-sayangi tapi tetap ku-lakukan dengan paksa.

Tidak ada yang lebih menyedihkan dibanding menerima kenyataan bahwa diriku merasa tidak pernah pantas untuk siapapun. jauh di dasar lubuk hati kau peduli tentang kabar, kondisi, keseharian. dan ketika aku pergi, aku baru sadar kau telah begitu keras selama ini mencoba. tentang segala kemungkinan yang tidak pernah tertuliskan hitam di atas putih. dari sini aku sadar tidak boleh hanya menginginkan kesabaranmu, sikap dewasamu, kasih sayangmu, pelukanmu, senyumanmu atau suaramu saja tapi aku perlu menerima keramahan dan ketulusanmu pada sesama manusia. kau juga tidak boleh hanya menginginkan kemandirian dan pemikiran unik-ku, itu harus sepaket dengan pemberontakan dalam diriku bukan? yang keras juga penuh gejolak dendam. dan dari sini kita berdua tahu bahwa kita tidak pernah mau mengakui masing-masing dari kita murni saling mengasihi.

Kita dibesarkan oleh kerumpangan dan air mata. kita tahu harga yang harus dibayar untuk derita dan lara. jadi kurasa, menghindar adalah caramu mengutarakan kesedihan. kau tidak mau membagi perasaan terdalam-mu lewat kata. sering kau memberi tahu bahwa kau tak pandai merangkai kalimat guna menyatakan perasaan. ku-percayai hal itu dan sebagai gantinya kau sangat terampil membuatku merasa dilayani dengan baik. namun sebenarnya kita sama. aku juga tidak mahir mengumbar kata di hadapan orang yang ku-sayang. aku senang menuliskannya diam-diam. dan kau mungkin tidak akan menemukan fakta itu jika kau tidak membaca tulisan ini. aku bersungguh-sungguh.

Karena aku rasa kau juga tahu bahwa menjalin hubungan dengan seseorang mirip pertaruhan. mengoyak permukaan hingga menjadi keretakan atau menjahit robekan tanpa kegaduhan. pertaruhan tentang apakah kita akan mendapatkan segalanya atau kehilangan seluruhnya. jadi, jika ada harga yang harus kita bayarkan pada Semesta untuk masa depan, mari saling menyelam lebih dalam.

Ini bukan chapter yang mudah. kita pernah patah namun kemudian meminta kembali restu dari Semesta. menjalani kebersamaan dari jarak jauh bukankah digerogoti dengan keraguan? aku berhak mendapatkan kepercayaan, pun denganmu. karena kita sepakat untuk saling memiliki. tanpa mengurangi rasa hormat terhadap kebebasan masing-masing sebagai individu. lagumu kau nyanyikan dan aku mendengarkan. suara ku-lambungkan dan kau menyimak penuh penghayatan.

Apakah kita terlalu terlambat menjadi dewasa? masih belum padang jalan kita di depan. tapi kau percaya bukan bahwa kita memiliki kesempatan? untuk terus menjaga kesadaran diri dan komitmen hati. kita yang ku-kira akan usai ternyata masih memilki lembaran baru yang harus kita urai.

Dan kita adalah sepasang cermin. saling mengutuhkan, saling melengkapi tapi tetap menjadi diri yang masing-masing. karena dicintai olehmu adalah anugerah dan mencintamu sebuah kemauan hatiku untuk berpasrah.

0 comments:

Post a Comment

My Instagram