Reconnect

Tidak ingin kalah dari siapapun, dengan siapakah diriku telah saling bersaing? - Boku no sakura

Mengawali tahun 2023 ini aku sedikit mengingat penggalan lagu JKT48 itu agar introspeksi diri. karena selama ini berjalan ataupun berlari tapi sesungguhnya pada siapa aku menunjukkan kebolehan diri. sering kudengar bahwa musuh terbesar kita sebenarnya adalah ego kita sendiri. ia bersemayam di dalam. menggerogoti tiap senti kebahagiaan karena keinginan besar untuk menang. mungkin aku salah satunya. manusia dengan beragam ambisi terselubung yang tak ingin terkalahkan. jadi, ingin ku-urai satu persatu kekhawatiran itu. ketakutan perihal akan menjadi kecil, lemah dan tak berdaya.

Aku  sadar bahwa tidak pandai mengelola keuangan milik-ku. berapapun jumlah saldo tabungan akhirnya ludes karena terlalu sering menuruti keinginan menggapai barang. aku tidak pernah berhasil memusatkan diri agar berhemat. selalu saja dilanda hasrat membelanjakan. mataku kerapkali lapar melihat sesuatu dari hanya sekadar lucu, misterius, atau bahkan tidak dibutuhkan sama sekali. menjadi konsumtif dengan pemasukan yang belum stabil sangatlah menyiksa. hal ini cepat atau lambat akan menggerogoti taraf kepuasan hidup karena value didasarkan pada barang.

Ada keinginan belajar memilah prioritas. jadi, tahun lalu aku sedikit banyak belajar tentang minimalisme. masih tahap pengenalan. aku harap tahun ini punya cukup kemauan menerapkan sebagai gaya hidup baru. aku rasa ini tidak akan mudah tapi aku akan berusaha. dibarengi dengan keinginan berbenah dengan seminimal mungkin barang yang dipunya dan hanya dibutuhkan. ini akan menekan nafsu menjadi berlebihan terhadap barang yang diproduksi oleh pabrik. 

Sesungguhnya, aku sendiri masih kepayahan memulainya. dibutuhkan kesadaran tingkat tinggi dan komitmen luar biasa untuk meneruskannya. setidaknya untuk 90 hari pertama, aku akan coba mengurangi intensitas berbelanja. minimalisme bukan tentang apa yang kita punya. akan tetapi tentang mengapa kita perlu memiliki itu. karena minimalisme adalah tentang bertanggung jawab dengan barang milik kita. termasuk nilai fungsi, keindahan maupun proses merawatnya. jadi biarlah berjalan perlahan asal terlaksanakan. bukankah mencari kesempurnaan tidak akan ada habisnya? padahal yang penting itu progres. 

Sejujurnya, aku tidak pandai bergaul. aku bahkan tidak punya banyak teman. aku sangat selektif mengizinkan siapa yang boleh dekat denganku. ibu khawatir bahwa aku tidak akan menikah. sesungguhnya, tersirat dalam hati kecilku ingin melajang hingga usia tigapuluhan. aku rasa ibu tidak akan membiarkannya. aku yakin ia akan terus berusaha mendorongku memikirkan jodoh, pernikahan, keluarga atau cucu untuknya. entahlah, aku tidak tahu harus bagaimana memenuhi ekspektasi itu. 

Aku pernah hampir kehilangan diri sendiri karena begitu menggebu mengejar seseorang. jatuh begitu dalam pada dasar yang gelap dan berkabut. karena tahap ini telah membuat kepercayaanku pada seseorang kian menipis. menambah deretan trauma. kala merasa disia-siakan itu mirip semacam permainan klasik ketika terpuruk. aku pernah sebimbang itu terhadap perasaan seseorang. aku benar-benar kebingungan saat itu karena aku mengambil peran maskulinitas. menjadi pemburu yang menginginkan hatinya. lalu aku menemukan sebuah tulisan yang berbunyi jika seseorang mencintaimu maka kau akan tahu, tapi jika tidak maka kau akan bingung. kurasa ia bukan orang baik. karena ia sengaja melukai orang lain dan menikmati kesakitan itu.

Aku memaksakan diri memeras energi di tempat yang bukan medanku. terutama saat menyangkut urusan dengan orang lain. kedamaianku terusik, dan aku membiarkan mereka menerobosnya. semakin ke dalam, semakin penuh kekacauan. aku kehilangan kendali. aku tidak percaya bahwa kalimat mereka bisa begitu kejam dan melukai. aku meresponnya dengan diam tak berkutik. lalu orang-orang menganggapku seperti tak peduli dan ingin menang sendiri. padahal yang ku-maksudkan adalah sebisa mungkin menghindari drama yang bisa terjadi. 

Tapi mulai sekarang aku hanya mengizinkan hubungan yang menawarkan perasaan aman, kepercayaan, kejujuran, keterbukaan dan ketulusan. hubungan yang tidak ada dusta dan orang ketiga. hubungan yang bersih dan jauh dari prasangka. hubungan yang membuatku merasa tenang. bukan sesuatu yang menyita kecemasanku. aku tidak ingin berurusan lagi dengan orang yang sengaja mengujiku. untuk semua kesabaranku, untuk semua usahaku. aku lelah bertemu rumah yang salah. rumah yang tidak memberiku fondasi utuh dalam hubungan.

Aku perlu banyak waktu sendiri. aku ingin berdamai dengan anak kecil dalam diriku yang kesepian. rasanya sudah cukup memberikan kesempatan orang-orang menunjukkan warnanya. aku harap ketika mencintai dan dicintai seseorang aku tidak meminta maaf lagi. karena selama ini aku tidak suka mendiskusikan perasaanku. aku tidak suka membicarakan masalah perasaanku. itulah kenapa aku memilih banyak diam ketika merasa luapan emosi berkecamuk. diam dan menangis. karena aku tak suka membaginya dengan orang lain. aku tidak suka mereka mengasihaniku.

Semakin dewasa ini aku hanya ingin diterima apa adanya. sama seperti aku menerima kekurangan dan kelemahan orang lain. bukan lagi menjadikan diri sosok sempurna sama seperti aku meninggikan orang yang biasa saja. aku tidak mau repot-repot lagi berusaha. jika ada yang menetap dan menerima semua cacat ayo silakan. jika tidak bersedia dan ingin pergi juga silakan. 

Semakin ke sini semakin lebih banyak mengalir daripada mengejar sesuatunya. umur tidak lagi muda, cita-cita menguap entah kemana. idealisme terkikis habis oleh realita. ingin menjadi biasa saja. label dan atribut yang pernah tersemat itu biarkan hilang begitu saja. mungkin ada baiknya mengambil jeda, supaya bisa terhubung dengan diri sendiri

Ternate - Januari 2023

0 comments:

Post a Comment

My Instagram