Logika memang tahu kapan kita harus berhenti atau melepas, namun hati butuh lebih banyak waktu mempersiapkan diri. jika waktunya tiba barulah diri kita bisa sembuh seutuhnya.
Biar kuberitahu. kemarin aku pernah punya keberanian. keberanian mengambil risiko sebagai perempuan untuk mencintai duluan. keberanian mengambil tindakan agar hubungan berjalan. keberanian agar mendapat kelayakan seperti kebanyakan romansa orang. dan aku merasa dihajar oleh diri sendiri. keberanian itu pupus menjadi malapetaka. menggelapkan mata hati yang tulus dan murni. keberanian menggenggam agony lalu berujung luka. aku pernah punya keberanian semacam itu dan telah memberi pembelajaran paling berarti.
Lalu aku punya keberanian lain. yakni keberanian untuk melepas dan pergi. namun, aku pergi bukan untuk kembali. bukan pula untuk membuktikan aku jauh lebih bahagia meski kenyataannya demikian. aku murni pergi karena aku mendapat kesadaran bahwa tidak ada gunanya bermusuhan dengan diri sendiri demi memenangkan hati manusia.
Jatuh hati pada seorang anak manusia. semua ketidaksempurnaan yang pernah dirangkul itu justru seperti tikaman ribuan duri tak terkira perihnya. ku lepaskan rangkulan itu, ku cabuti cabang-cabang duri yang menancap di sekujur tubuh. bercucuran darah dan penuh luka. seluruh tubuhku menangis kecuali mata. ia menderita lebih banyak dari anggota tubuh lainnya karena selama ini seolah buta. tak bisa membedakan ilusi dan nyata. sekarang aku duduk. menikmati sisa tikaman masa itu. menjauhkan murka membakar jiwaku dan mulai menjernihkan pemikiranku bahwa:
“Jika ia seorang penjelajah, biarkan ia tetap berjelajah. jika ia seorang petualang, biarakan ia tetap bertualang. jika ia seorang suka berkelana, biarkan ia pergi ke mana. asalkan ia tahu, jalan untuk pulang. di sana ada rumah bernama dirimu. tempat bersandar paling aman.”
Suara itu mirip kelopak Lily yang bernyanyi sebelum tenggelam ke dasar. memanggil setiap jiwa yang rapuh, pedih dan kesepian. sebab hati mereka ibarat bunga yang tumbuh tanpa pelukan. apa kau pernah mendengar kata Meraki? itu adalah tentang melakukan segala sesuatu dengan sepenuh jiwa. diambil dari bahasa yunani. meraki menjabarkan tentang keluasan kita menuangkan segala seni, cinta dan kreativitas ke dalamnya. artinya, kita dalam keadaan tulus dan bersungguh-sungguh.
Hal terbaik yang ku-lakukan sebagai bentuk meraki selain mencintai diri sendiri adalah mulai membuka hati pada orang yang menginginkanku sebagaimana adanya diriku. ku-bangunkan perempuan yang ingin menyayangi tubuh dan jiwanya selama ini. memberikan kesempatan seseorang yang ingin menunjukkan perasaannya. kurasakan saat itu kupu-kupu menari di perut kala ia menyentuh kepalaku. mengusap rambutku dengan lembut dan hati-hati. lalu meletakkan bibirnya mengecup dahiku. ia menciumnya dengan sangat dalam dan lama. aku bisa merasakan hembusan napasnya meniup anak rambutku. ia mendekatkan dahinya menyentuh dahiku lalu menyatukan hidung kita tapi tidak mencium bibirku meski punya pilihan untuk itu.
Rasanya ingin memberitahu bahwa ia sungguh nyata. bukan seseorang yang melintas dalam khayalku saja. bahwa ia adalah sosok lelaki yang membuat hatiku berdesir tanpa mengkhawatirkan bagaimana esok hari. hanya menikmati waktu berhenti saat itu saja. pada dekapan yang menenteramkan. kau bisa bayangkan bunga yang selama ini tumbuh tanpa kecupan dan dekapan memperoleh bahasa kasih yang tulus dari seseorang yang datang setelah dilebur oleh kesakitan. seperti mendapat dukungan cahaya matahari, aku ingin tumbuh dan menua bersamanya. sudah sangat lama berada di kegelapan sendirian, inilah waktunya menerima bentuk terindah selain doa dan kasih ibu.
Karena keindahan jiwa dapat ditemukan pada diri yang pernah kehilangan tapi memilih untuk tidak berhenti mengasihi. pada yang pernah mengalami tragedi tapi memilih percaya secercah harapan masih tersisa di dunia ini. juga pada yang pernah mengecap kegagalan tetapi tetap berusaha menggapai cita dan mimpi. patah-jatuh-bangun adalah bagian dari kehidupan. beri waktu kepada diri kita untuk sembuh dan bertumbuh. agar bisa merangkul meraki dengan luas dan utuh ~
.jpg)
0 comments:
Post a Comment