Cafuné

Hal favorit yang paling ku-gemari saat duduk bersamanya selain menatap matanya adalah menyentuh rambutnya. itu termasuk, membelainya, mengusapnya, menyisipkan jemariku pada tiap helainya. entah mengapa rasanya seperti merawat seorang anak kecil. terlebih, apabila ia duduk di pangkuanku. benar-benar suatu momen yang kerap kurindu. 

Rambutnya ikal, cenderung keriting tepatnya. serasi dengan wajahnya yang manis dengan alis tebal membingkai. memperingatinya agar memotong rambut adalah bentuk kasih yang mungkin saja menyebalkan baginya. saat aku sudah bisa meremas helai rambutnya, itu artinya rambutnya sudah cukup pantas untuk dipangkas. ia mengiyakan dengan menyentuh balik rambutku. membelainya dengan telapak tangannya yang selalu hangat dan halus. 

Kami menghabiskan waktu memadu kasih sayang. bagaimana ia meletakkan kepalanya di pangkuanku sembari berceloteh manja. kadang diam beberapa saat dan membenamkan wajahnya menciumi rambutku yang tergerai. keadaan seperti ini diselingi kegiatan kami menonton kartun di kursi ruang tengah hingga larut malam. sesekali aku tertawa lepas oleh lelucon yang ia buat dengan membuat pukulan kecil di bahunya.

Apa ia meringis kesakitan? tidak. ia hanya mempererat pelukannya melingkar di tubuhku. kadang aku bertanya, apa ia benar nyata? pria yang mendekapku ini, apakah ia sadar tengah membuat sebuah perasaan bahagia mengecap arti nyaman? matanya yang setengah kantuk seteduh sinar rembulan kesepian dan mencari rumah untuk pulang. 

Baginya, menguap berulang tanda untuk berpamitan. jadi, kami mengakhiri malam dengan satu pelukan terakhir. ia tersenyum simpul sebelum mengucapkan selamat malam. jangan tanya bagaimana ingatanku bisa merekam sedetail ini. itu karena aku menyimpannya di tempat yang bakal selalu kurindui. 

Dia, rambutnya, matanya, wanginya, suara manjanya, juga dekapannya ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram