H e r

Juni, delapan. 

Usianya dua puluh enam. bunga yang bagi kebanyakan orang sudah cukup matang, tetapi dirinya baru saja mekar. gadis keras kepala! ia khawatir dengan banyak hal. ia memandu dirinya menuju kedewasaan. dari cara yang lugu, unik, tapi menyimpan ketakutan yang dalam. 

Juni, delapan. 

Meninggalkan muda dan belia. mungkin beberapa citanya menguap atau entah dikubur dengan sengaja. dulu, ia lebih senang mengukir imajinasi. lihat, sekarang kerap berdamai dengan realita. lebih kebal terhadap pahit, lebih luas dengan segala bentuk sakit. aku bertanya, apakah ia berpikir untuk menikah nantinya? biar kutebak, ia perlu ruang untuk menjadi pantas. 

Juni, delapan. 

Kemarin, aku melihatnya sebagai perempuan yang bersanding dengan kebebasan. tapi, aku bisa merasakan betapa kesepiannya ia di dalam. hanya memperbolehkan orang tertentu untuk mengetuk dan masuk, kemudian menancapkan belati tepat di dada sebelah kiri. 

Sejak suatu hari ia pergi mengarungi lautan. matanya mudah terkesima pada birunya langit dan segara. tapi ia tidak paham apa maksud dari kepergian dan kepulangan. meninggalkan atau menilik saudarinya jauh di seberang. permisi? apakah sekarang ia sudah paham, sedari dulu selalu berkawan dengan perpisahan? 

Rumahnya telah lama runtuh, sejak ia berpayungkan rembulan dan beralaskan dedaunan. kakinya menggaruk isian tanah. menemui caci maki dan sumpah serapah. oh sayangku, lihat kini kau seorang perempuan dewasa!

Juni, delapan. 

Tubuhnya beralas bumi. rambutnya diwarnai cahaya mentari. matanya berbinar bak kunang-kunang, ia tak bisa mengubah takdir yang kadung jalan. ia hanya berdoa memiliki kesempatan menata hidupnya yang berantakan. 

Riuh-rendah tawanya digerus tangis. mengingatkan tua jiwanya agar tetap bersahaja. menengadah pada pemberi ampunan, jaga sebaik kelak rumpun sepasang. sembari erat memeluk dirinya berlinang. 

Selamat terlahir, sayang. untuk setangkai mawar mekar di tahun dua puluh enam !

0 comments:

Post a Comment

My Instagram