Eunoia

“Segala sesuatu dapat diambil dari seorang manusia, kecuali satu hal; yaitu kebebasan manusia untuk memilih sikap dalam situasi tertentu, untuk memilih jalan sendiri” - Victor Frankl

Bermula dari logoterapi yang bertujuan membantu pasien menemukan alasan untuk hidup dalam menghadapi neurosis mereka. hal ini membantu seseorang mengisi kekosongan eksistensialnya. lalu beralih ke terapi morita pada dekade yang sama, terapi ini berpusat pada tujuan dan terbukti efektif dalam pengobatan neurosis, gangguan obsesif-kompulsif, serta stress pascatrauma. terapi morita berfokus mengajari pasien untuk menerima emosi tanpa berusaha mengendalikannya, sebab perasaan akan berubah sebagai akibat dari tindakan.

Sedangkan meditasi introspeksi naikan mengacu pada pengetahuan dan penguasaan refleksi diri sebagai bentuk pemberhentian mengidentifikasi orang lain penyebab masalah serta memperdalam tanggung jawab terhadap diri sendiri. dari ketiga konsep tersebut, sekarang lahirlah ikigai. bagaimana menerjemahkannya? adalah ketika terdapat perasaan mengalir. maka kesenangan dan kepuasan merupakan bukti bahwa kita tengah selaras dengan ikigai. lalu bagaimana cara menemukannya? saya rasa, kita bisa menggunakan flow tersebut. flow itu misterius, dan semakin banyak kita memiliki flow maka kita akan semakin dekat dengan ikigai milik kita. 

Perjalanan mencari tujuan dan makna hidup setiap orang beragam. saya pernah nyaris kehilangan diri sendiri ketika mencintai mahluk fana begitu dalam. seperti di tanam ke dalam tanah sebagai benih untuk tumbuh kembali, sekali lagi saya mekar berkat bantuan banyak pertolongan dari Semesta. bagaimana cara keluar dari jurang frustasi itu? adalah membuat keadaan saya menjadi ikhlas, lalu berfokus menemukan dan merawat diri saya yang baru. 

Tahun 2021 saya membaca buku berjudul Filosofi Teras karya Henry Manampiring. dari situ saya menemukan beragam hal menarik mengenai filosofi hidup stoikisme. beliau sendiri menulis buku ini karena dilatarbelakangi oleh kondisi psikologis yang dialami. seperti yang dicantumkan pada awal bukunya, menderita Major Depressive Disorder. karena berangkat dari pengalaman pribadi penulis sendiri, saya jadi tertarik untuk mengetahui lebih mendetail mengenai isinya. secara umum, saya juga tidak berbeda jauh saat itu menangani beragam kondisi dengan emosi negatif sehingga kesehatan fisik dan mental saya jadi menurun. salah satunya, sering cemas dan khawatir untuk hal-hal yang tidak pasti.

Dari bukunya, beliau menjabarkan ada banyak biaya yang kita keluarkan untuk membayar kekhawatiran. pertama, menghabiskan energi pikiran. kedua, menghabiskan waktu dan uang dan terakhir, jelas berpengaruh yakni mengganggu kesehatan. karenanya, dalam tulisannya henry manampiring mengaku terbantu oleh filosofi teras, sebuah filosofi hidup yang realistis. tujuannya antara lain agar bisa hidup bebas dari emosi negatif juga hidup untuk mengasah kebajikan. filosofi teras menekankan agar bisa hidup selaras dengan alam. artinya, manusia harus hidup sesuai dengan desainnya, yaitu mahluk yang bernalar. selain itu, ada juga pengetahuan mengenai dikotomi kendali. yakni, kita harus bisa membedakan hal-hal yang ada di bawah kendali dan yang tidak tergantung pada kendali kita. satu kutipan penting yang saya ingat bahwa apabila kita hanya merasa bahagia dengan hal-hal yang ada di luar kendali kita, ini sama saja dengan menyerahkan kebahagiaan dan kedamaian hidup kita ke pihak lain. 

Karena sebelumnya saya membahas tentang logoterapi, maka saya ingin mengabarkan bahwa kita tidak bisa memilih situasi kita, tapi kita selalu bisa menentukan sikap atau cara kita bereaksi. ini salah satu prinsip stoikisme dalam menghadapi hal-hal yang terjadi di luar kendali kita. ajaran filosofi teras menjelaskan bahwa pada dasarnya semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, dan persepsi kita. dan jika ada emosi negatif, sumbernya dari nalar atau rasio kita sendiri. 

Sebelumnya, saya gemar sekali memikirkan segala hal dengan prasangka negatif. membuat saya sering marah, bahkan sedih tanpa sebab padahal masalahnya adalah pikiran saya sendiri. saya berlarut pada stres karena reaksi yang berlebihan. saya seperti terpenjara pada labirin praduga oleh kekhawatiran. saya menampik realitas dan lebih mempercayai skenario yang dibuat oleh kepala saya sendiri. benar-benar masa yang sulit dan melelahkan saat itu. keadaan seperti itu sangat menyiksa dan tentu saja menguras energi. memberikan beban penderitaan pada diri oleh pikiran negatif daripada melihat realita sesungguhnya.

Tetapi yang membuat saya berhasil banyak menyingkirkan kekhawatiran yang kerap kali menghinggapi hidup saya adalah dengan belajar perlahan menerima kenyataan se-apa-adanya. keberanian itu perlahan tumbuh mengingat saya bukan manusia sempurna, serba tahu dan serba bisa. dengan keterbatasan, saya hanya mahluk fana yang juga pasti akan tiada nantinya. dan filosofi teras memiliki banyak catatan yang menyadarkan saya bahwa kematian juga bagian dari alam (nature). baik kedatangan maupun kepulangan kita tidaklah ditetapkan oleh diri kita sendiri. 

“Maka pergilah kamu (dari hidup) dengan anggun - keanggunan yang sama yang telah ditunjukkan kepadamu” - Marcus Aurelius

0 comments:

Post a Comment

My Instagram