Saya kembali
membuka buku-buku yang tersisa dari lemari. terutama tentang buku yang sedikit
banyak mengubah persepsi saya mengenai hidup dengan sedikit barang. tidak
banyak buku yang saya sisakan dan benar-benar saya simpan karena saya
menyukainya. sebelumnya, ada ratusan judul yang entah sudah sejak kapan saya
koleksi tapi sebagian tidak tuntas membacanya, hanya memajangnya di rak
meja.
Kini, kembali saya
membuka halaman buku tentang minimalisme. sebuah pencerahan bisa menyadari
betapa menyenangkannya hidup minimalis. meskipun masih terbata-bata
menjalankannya, saya berusaha menerapkan konsep minimalisme sebagai gaya hidup
saya. ada beberapa judul yang bisa saya katakan sangat berpengaruh mengubah
aspek pemikiran saya, seperti dari penulis fumio sasaki berjudul goodbye things
dan hello habits untuk buku lain darinya. ada juga seni hidup minimalis dari
francine jay. lalu dari marie kondo the life-changung magic of tyding up.
selain itu ada juga buku yang membantu saya mengelola keuangan pribadi dari morgan
housel berjudul the psychology of money. kelima buku ini, sangat saya
rekomendasikan untuk memulai hidup sederhana namun merasa cukup.
Sejatinya, buku
terakhir menyadarkan saya bahwa eksistensi uang yang selama ini kita kira hanya
sebagai alat pembayaran ternyata berpengaruh terhadap psikologi kita. hal yang
mencengangkan adalah bahwa mengelola uang tidak ada hubungannya dengan
kecerdasan kita tetapi lebih ke arah perilaku kita. seperti kata morgan housel,
mendapat uang itu satu hal tapi menjaganya itu lain cerita. karena mendapat dan
menyimpan uang adalah dua keahlian yang berbeda.
Mengapa saya
memasukkan peran uang dalam pembahasan konsep hidup minimalis? ya. itu karena
sebagian besar uang yang saya punya saya gunakan untuk membeli barang yang
akhirnya menumpuk dan memenuhi tempat tinggal saya. tahun-tahun sebelumnya,
saya mulai giat membuang barang tapi selalu datang barang lain yang entah
serupa atau tak sama. sedangkan tabungan saya semakin menipis dengan pendapatan
yang belum stabil. itu membuat saya stres dan merasa bersalah sebab kesenangan
membeli barang-barang itu hanya sekejap saja. jadi, saya membaca buku ini,
mengingat hal pertama yang harus saya benahi adalah pola pikir saya.
Garis besar yang
saya temukan pada bacaan mengenai the psychology of money adalah nilai
intrinsik terbesar uang adalah kemampuannya memberi kendali atas waktu dan
pilihan. sedangkan kita tahu bahwa kendali atas waktu berpengaruh besar
terhadap kebahagiaan. kenapa? karena kendali atas waktu adalah dividen
tertinggi yang diberikan uang. sebagai catatan untuk kita adalah sebenarnya
cara menjadi kaya itu membelanjakan uang yang kita miliki dan tak membelanjakan
uang yang tak kita miliki. bagaimana dengan saldo tabungan? nah! salah satu
cara untuk menambah isi tabungan bukan dengan menambah pendapatan, melainkan
menambah kerendahan hati.
Hubungan perilaku
konsumtif dengan uang adalah karena kecenderungan kita mengkhawatirkan pendapat
orang. saya menjadi sadar bahwa, saya bisa saja menginginkan lebih sedikit
barang atau apapun jika saya mengurangi memusingkan apa yang dipikirkan orang
lain mengenai diri saya. dengan kata lain, melepas segala label dan atribut
yang disematkan orang lain kepada diri kita. jangan salah, karena ini berkaitan
dengan konsep hidup minimalis yang menginginkan agar kita senantiasa merasa
cukup tanpa mengharap validasi maupun pengakuan orang lain.
Minimalisme bukan
berarti kosong atau tidak ada sama sekali. tapi seperti menyediakan ruang
dengan komitmen jangka panjang. sebab dengan menyediakan ruanglah kita bisa
mengapresiasi keindahan. minimalisme akan lebih mudah diterapkan apabila
barang-barang di sekitar kita bersifat fungsional. namun, ada analogi yang
dapat ditawarkan untuk menggambarkan rasa merdeka oleh cara hidup minimalis,
yakni ketika kita bepergian. bukankah semua terasa ringkas ketika meninggalkan
barang-barang yang kurang penting di rumah? dan membawa hanya sesuai kebutuhan
saja. setiap membeli sesuatu, saya berlatih untuk bertanya kepada diri sendiri
terlebih dahulu dengan pertanyaan "kenapa, perlu membeli ini?" dengan
demikian, saya bisa meminimalisir memasukkan barang yang tidak begitu penting
ke keranjang belanja. hal ini terus saya lakukan, terutama ketika hasrat
menghamburkan uang menjejali keseharian saya. sebab pada dasarnya, membeli sedikit
barang adalah prinsip utama hidup minimalis. jadi, alangkah baiknya membuat
keputusan membeli berdasarkan kebutuhan dan siklus hidup produk, bukan hasrat
maupun keinginan sesaat.
Saya ingin
membagikan pengalaman bagaimana saya membuang barang. dulu saya gemar
mengoleksi aneka barang. entah itu pakaian, aksesoris, buku-buku, peralatan
skincare, sandal sepatu dan masih banyak kategori barang lain. saya kira hobi
saya itu membawa dampak positif, namun justru selain uang saya menipis,
barang-barang tersebut hanya sedikit yang benar-benar terpakai. sampai suatu
ketika saya menyadari, ini tidak benar sama sekali.
Jadi, saya mulai
dengan membongkar isi lemari. memisahkan lembar pakaian yang tidak
terpakai, mendonasikan buku-buku, dan membuang aksesoris yang biasa saya
letakkan pada permukaan meja yang sebetulnya tidak berguna. saya rasa benar
kata fumio sasaki bahwa energi kita habis untuk benda mati, dan terus
merasa bersalah karena tidak mampu memanfaatkan benda-benda itu dengan baik.
karenanya saya memutuskan untuk melepaskannya. buku fumio sasaki berjudul
goodbye things memberikan 55 kiat berpisah dari barang. itu memudahkan saya
membuang secara bertahap dan melatih untuk tidak menumpuk barang baru.
Saat memilih
minimalis, itu juga berarti membebaskan diri dari semua pesan bermuatan materi
di sekitar kita. pesannya yaitu ketika kita dikelilingi barang yang penting,
maka secara otomatis kita ingin mengurangi segala hal lain yang tidak begitu
penting. sebenarnya, dengan sedikit barang kita memiliki kemewahan dalam bentuk
waktu. ada satu kutipan dari buku milik francine jay yang saya sangat
suka, seperti ini;
“Menemukan cara
untuk mencintai tanpa memiliki sesuatu adalah salah satu kunci bagi kehidupan
minimalis” - Francine Jay
Saya mulai
menanamkan dalam diri bahwa keyakinan tak perlu disuarakan dengan uang atau
kekuasaan, melainkan cukup dengan melakukan tindakan nyata. hal ini sepadan
dengan niat tulus saya memulai chapter baru dan kebutuhan memaknai ulang
kehidupan saya. karena itu saya memilih minimalisme sebagai gaya hidup saya
untuk seterusnya.
Tertanda, Desember
2023 ~
0 comments:
Post a Comment