Moon

Aku bertemu denganmu ketika aku hancur. kau sedikit memperbaiki-ku,

lalu meleburkan diriku sepenuhnya

Aku berbicara tentang seorang perempuan.

Mereka menyebutnya kaku, dingin dan keras kepala. selama ini dia begitu kesepian. berpikir bahwa dengan memberikan segalanya maka ia akan dicintai dan tidak akan pernah ditinggalkan. berharap bahwa semua cinta kasih dan ketulusan akan berbalik menghampiri. nyatanya, kehidupan tidak berjalan seperti itu. perempuan ini sedang dilanda derita. tidak ada yang bersedia duduk di sebelahnya, menggenggam tangannya ataupun menjadi sandarannya. ia tidak pernah menuntut lebih, ia tidak ingin meminta banyak, ia berusaha sebisa mungkin tidak merepotkan. ia kadang berisik dan gaduh sebentar, untuk menyuarakan perasaannya. apalah daya, itu diterjemahkan sebagai bentuk arogansi dan keegoisan.

Bagian yang paling menyedihkan adalah bahwa ia tidak merasa dicintai. ia merasa bahkan untuk sekadar diterima apa adanya tidak ada apalagi menuntut balasan. hatinya hancur, bunga yang dulu mekar sekejap di hatinya berubah menjadi layu dan hampir mati. ia dibunuh oleh ekspektasinya sendiri.

Aku memperhatikannya dari jauh, perasaan yang ia anggap istimewa ternyata hanya sekadar keadaan yang memabukkan. setelah ia sadar, barulah ia menangis sekuatnya. “tidak ada yang tinggal di sini, tidak ada yang mau mendampingiku” begitulah katanya setiap hari.

Kalaupun dia memutuskan untuk tamat? ah tamat yang kumaksud adalah merelakan segala ekspektasi. seseorang yang pernah ada di sana dan kini sudah tidak lagi. seseorang yang bersikap manis dan sekarang juga seterusnya tidak lagi. kembali ia mengenang, ada begitu banyak kenangan manis semenjak bertukar pesan 2 mei. namun perempuan ini tidak mahir menunjukkan perasaan, ia berasumsi bahwa ruang interaksi itu hanya hidup dalam ingatannya. tersimpan rapi di handphone-nya, berpikir bahwa bulan terakhir tahun 2023 adalah waktu yang tepat menghapus seluruhnya.

Seperti berada di taman bunga, ah Semesta tolong kasihanilah dia. yang kini dia harapkan adalah memperbaiki dirinya yang telah dihancurkan. seandainya saja tidak ada rasa sayang di sana, seandainya tidak ada harapan di sana. seandainya itulah yang menghancurkannya. saat seseorang menunjukkan warnanya, ia mencoba mengingkarinya dengan berpikir “ah mungkin” padahal sudah jelas bahwa semesta menunjukkan corak yang sesungguhnya.

Hidup menjadikannya lebih hening. dia hanya akan mendengarkan, tidak lagi berbicara, tidak lagi menjelaskan, tidak lagi berargumen, hanya diam. kembali ia akan memulai perjalanan menjadi sembuh. ah, perempuan malang. pada akhirnya, era kupu-kupu yang menari itu sudah mati. di dalam hatinya bunga yang mengering adalah simbol menyerah. yang tersisa hanya kebencian dari orang yang teramat dia sayang. Semesta, rasanya dia sudah mengorbankan segala yang ia punya.

Aku berbicara tentang perempuan yang mulai mencoba merangkul takdirnya ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram