Kekasihku

Aku masih menunggu handphoneku berkedip. berharap ada pesan masuk yang mengatakan;

Masih di warung? ku jemput sekarang ya?”

Sesederhana itu keinginanku. aku tidak lagi muda, usiaku tahun ini menginjak 27. rintik hujan sore ini memintaku melamun. bertanya kepada diri; apa hubungan yang aku jalin bersama kekasihku sekarang ini berlandaskan ketulusan atau hanya nafsu belaka?

Aku penasaran bagaimana rasanya benar-benar dianggap rumah atau memiliki rumah untuk seseorang. apa semenyenangkan itu punya tempat untuk pulang? apa aku sudah terlalu tua untuk sadar, bahwa mungkin tidak ada rumah untukku kemudian?

Masih berdiam diri. mengamati makanan yang baru disediakan di atas meja. tapi rasanya hatiku teriris. di dunia ini? bahkan ketika kau memiliki kekasih, kau hanya dibiarkan sendirian dan kesepian. itu terdengar menyedihkan jika kau makan sambil menitikkan air mata.

Jadi di mana letak kurangku? jika kuberitahu, mungkin akan sangat panjang daftarnya. dan aku yakin, siapapun tidak akan sudi membacanya. sungguh, apa yang aku tunggu di sini? tidak akan ada yang menjemputku

Hei? apa kalian sama kesepiannya denganku?

Itu bukan salah kekasihku. dia cukup baik memahamiku, gadis rumit yang tidak suka dibaca. kekasihku baik. dia sering mengalah untuk memenangkan hatiku. ia mengalah mungkin karena tidak ingin berdebat. tapi akhir-akhir ini kami sering berdebat jadi dia mengalah lebih sering. itu membuatnya sedih, yang kulihat dari matanya seperti itu.

Aku bukan kekasih yang baik untuknya. banyak sekali sifatku yang ah menjengkelkan dan juga arogan. kekasihku orang baik, aku satu-satunya orang egois yang banyak menghancurkan hubungan ini. mungkin sekarang ia sudah kelelahan menghadapi temperamenku. jadi, dia pamit tidak menggunakan whatsapp untuk sementara waktu. apa kau tau artinya apa? ya kami berhenti berkomunikasi.

Kemarin siang, kami sempat bertengkar hebat. lalu seperti biasa, egoku butuh banyak asupan. aku tidak memikirkan sama sekali imbas dari perkataanku yang kasar terhadapnya. aku hanya merasa puas karena berhasil meluapkan emosiku. aku menutup telinga atas saran dan nasehatnya, dia pasti muak sekali tentunya.

Sudah jelas terlihat dari raut wajahnya bahwa ia kecewa. aku sudah meminta maaf tapi rasanya juga percuma, ia tetap memutuskan pamit untuk sementara waktu. jadi? tidakkah kau berpikir bahwa aku sudah terlalu melukainya?

Entahlah, ini perselisihan yang keberapa. kami hanya mencoba menenangkan diri agar tidak gegabah mengambil keputusan di saat sedang emosi.

Kekasihku penyayang, sikapnya tetap lembut ketika aku sedang marah. namun banyak diam ketika ia yang marah. aku bukan seseorang yang pandai menunjukkan perasaan, mungkin begitu juga dengannya. tapi dia jauh lebih dewasa pemikirannya. mengimbangi sifat kekanakanku yang masih kental.

Tapi kenapa aku masih merasa kesepian? merasa tidak diperhatikan? padahal komitmennya sudah terlihat. apa karena aku bosan? jenuh dengan keadaan? padahal diajak menikahpun rasanya belum siap.

Sudah duapuluh bulan sejak mengenal kekasihku ini. banyak hal yang dia ajarkan untukku terutama bagaimana aku bisa memahami diriku sendiri. aku yang di luar terlihat pendiam, penyabar dan pasif ternyata menyimpan gelombang amarah seperti bilah pisau tajam yang siap menikam siapapun. mungkin dirinya adalah korban, mengobati sayatnya seorang diri tapi terus merangkul dan mencintaiku.

Ia masih membebaskanku. tidak menuntutku menjadi apa yang sesungguhnya ia idamkan. aku suka akan hal itu tapi kadang aku ingin dilarang. rasanya ia tidak pernah memarahiku atau membentakku atau menunjukkan kekecewaannya padaku. apakah sesungguhnya kekasihku ini tidak mencintaiku?

Kekasihku baik. dia menunjukkan caranya sendiri untuk membahagiakanku. aku yang terbiasa sendiri sudah pasti tidak senang jika terlalu diawasi. aku yang selalu butuh tempat dan spasi untuk mengembalikan energi dan ia tidak menuntut untuk ada setiap waktu setiap hari.

Kekasihku baik.

Matanya berkaca saat melihatku murka. pernah kudapati ia menatapku diam-diam dan matanya sudah penuh dengan genangan. tanpa mengucapkan sepatah kata, ia mendekapku perlahan. menyembunyikan air matanya di belakang.

Dia kekasih yang baik bukan?

0 comments:

Post a Comment

My Instagram