Gunnen

Dia memijat lengan dan punggungku yang kaku. mengelus rambutku lalu menciumi mataku sembari mempererat tangannya melingkar di pinggangku. kemudian tangannya mengusap rambutku dan tangan lainnya menautkan jemarinya pada jemariku. aku terdiam ketika ia mendekatkan wajahnya dan membenamkannya ke dadaku lalu berkata; 

Bisa kudengar degup jantungmun Dear

Matanya menatapku lama dan dalam. seolah mencari persetujuan “Apakah boleh mencium bibirku.” rambutnya sudah mulai memanjang. aku bisa merabanya lewat celah jemariku. aku memainkannya sebentar sambil bergumam sudah cukup panjang untuk dipotong. lalu ia mendekatkan bibirnya ke leherku, menciumnya perlahan. aku bisa merasakan nafasnya yang hangat menyentuh kulit leherku. sambil merangkul pinggangku, ia menyibak rambutku dan bergantian ke sisi kiri leherku. aku tidak tahu harus bagaimana, merasakan lebih dingin dari biasanya. 

Dia  membawaku lebih rilex namun intim. merebahkan tubuhku di atas bantal. mendekap tubuhku yang sedikit tidak berdaya. bibirnya mulai menggigit kecil telingaku. sedikit paksa tangannya memiringkan wajahku dan menyingkirkan helai rambutku. dengan lembut bibirnya kembali mengecup leherku. tanpa disangka, ia menahan tanganku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku. aku tersentak. menutup rapat-rapat mataku untuk pertama seumur hidup inilah ciuman pertamaku.

Dia menggigit bibir bawahku. aku terdiam, terasa habis tenaga untuk melawan. kubiarkan bibirnya melumat bibirku. bibir mungil kecil tipis itu menautkannya pada bibirku. ia kemudian perlahan memasukkan lidahnya ke arah bibirku. aku tidak tahu haruskah kudorong atau menerimanya saja. tubuhku lemas rasanya, jadi kubiarkan bibirnya menghisap bibirku dan melumatnya dengan nafas memburu.

Beberapa saat dia berhenti. mulai mengecup lagi. melihatku tetap menutup mata, dia kembali mendekatkan bibirnya mengecupku. lembut sekali, sampai aku tidak bisa menolak lebih lembut dan pelan. aku mulai membalasnya dengan hati-hati

Aku mengangkat wajahnya yang setengah lelah dan setengahnya lagi mengantuk; membelai lembut wajahnya yang manis. ia menarik ke belakang rambutku lalu mengangkat sedikit wajahku. ia memiringkan wajahnya dan mulai memagut bibirku. sambil memeluk mesra ia meraba punggunggku. bibirnya naik ke mata lalu turun ke bibir lagi dan menghisap kecil leherku. rambutku yang tergerai menjadi berantakan.

Dia semakin merapatkan tubuhnya memelukku. mendekapkan wajahnya di antara dadaku seperti seorang anak kecil yang butuh tempat pulang. aku mengelus rambutnya yang ikal. sesekali menarik wajahnya agar bisa ku pandang. ia memainkan rambutku sambil sesekali mengecup keningku, lembut dan teramat dalam. berganti dia meraba pahaku, menidurkan dirinya di pangkuanku.

Dia meraba paha bagian dalamku, aku melenguh.

Jangan di situ” lalu menepis tangannya menjauh. ia mencobanya sekali lagi dan aku mendorongnya tapi justru tangannya sigap meremas pinggulku. dia mendekatkan wajahnya ke arahku, lalu berganti ke area telinga dan sempurna menggigitnya, aku terkesiap saat bibirnya kembali menyusuri leherku sambil menggigitnya kecil. dia merapatkan tubuhnya yang terus menindihku. bibirnya mencari bibirku. dengan perlahan mengecupnya kembali sembari menahan tanganku agar tidak berontak. aku tidak berdaya dan mulai menerima kecupan bertubi itu.

Dia tahu persis selama ini aku menolak bibirnya menyentuh bibirku. nyaris dua tahun kita bersama, dan ia sabar menungguiku yang keras, batu, juga kaku ini mencair hatinya. dari sini aku menegaskan

Aku milikmu sayang, tidak ada tempat lain untuk opsi manapun”

Bau parfumnya masih melekat di baju dan juga kulitku. aku suka pertemuan kecil seperti itu. membuatku rindu akan semua raga dan jiwanya yang sudah bertaut pada diriku. melekat erat mencari ruang untuk bersatu ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram