Dia memijat lengan dan
punggungku yang kaku. mengelus rambutku lalu menciumi mataku sembari mempererat
tangannya melingkar di pinggangku. kemudian tangannya mengusap rambutku dan
tangan lainnya menautkan jemarinya pada jemariku. aku terdiam ketika ia mendekatkan
wajahnya dan membenamkannya ke dadaku lalu berkata;
“Bisa kudengar degup
jantungmun Dear”
Matanya menatapku lama dan
dalam. seolah mencari persetujuan “Apakah
boleh mencium bibirku.” rambutnya sudah mulai memanjang. aku bisa merabanya
lewat celah jemariku. aku memainkannya sebentar sambil bergumam sudah cukup
panjang untuk dipotong. lalu ia mendekatkan bibirnya ke leherku, menciumnya
perlahan. aku bisa merasakan nafasnya yang hangat menyentuh kulit leherku. sambil
merangkul pinggangku, ia menyibak rambutku dan bergantian ke sisi kiri leherku.
aku tidak tahu harus bagaimana, merasakan lebih dingin dari biasanya.
Dia membawaku
lebih rilex namun intim. merebahkan tubuhku di atas bantal. mendekap tubuhku
yang sedikit tidak berdaya. bibirnya mulai menggigit kecil telingaku. sedikit
paksa tangannya memiringkan wajahku dan menyingkirkan helai rambutku. dengan
lembut bibirnya kembali mengecup leherku. tanpa disangka, ia menahan tanganku
dan mendaratkan bibirnya ke bibirku. aku tersentak. menutup rapat-rapat mataku untuk
pertama seumur hidup inilah ciuman pertamaku.
Dia menggigit bibir bawahku.
aku terdiam, terasa habis tenaga untuk melawan. kubiarkan bibirnya melumat
bibirku. bibir mungil kecil tipis itu menautkannya pada bibirku. ia kemudian
perlahan memasukkan lidahnya ke arah bibirku. aku tidak tahu haruskah kudorong
atau menerimanya saja. tubuhku lemas rasanya, jadi kubiarkan bibirnya menghisap
bibirku dan melumatnya dengan nafas memburu.
Beberapa saat dia berhenti.
mulai mengecup lagi. melihatku tetap menutup mata, dia kembali mendekatkan
bibirnya mengecupku. lembut sekali, sampai aku tidak bisa menolak lebih lembut
dan pelan. aku mulai membalasnya dengan hati-hati
Aku mengangkat wajahnya
yang setengah lelah dan setengahnya lagi mengantuk; membelai lembut wajahnya
yang manis. ia menarik ke belakang rambutku lalu mengangkat sedikit wajahku. ia
memiringkan wajahnya dan mulai memagut bibirku. sambil memeluk mesra ia meraba
punggunggku. bibirnya naik ke mata lalu turun ke bibir lagi dan menghisap kecil
leherku. rambutku yang tergerai menjadi berantakan.
Dia semakin merapatkan
tubuhnya memelukku. mendekapkan wajahnya di antara dadaku seperti seorang anak
kecil yang butuh tempat pulang. aku mengelus rambutnya yang ikal. sesekali
menarik wajahnya agar bisa ku pandang. ia memainkan rambutku sambil sesekali
mengecup keningku, lembut dan teramat dalam. berganti dia meraba pahaku,
menidurkan dirinya di pangkuanku.
Dia meraba paha bagian dalamku, aku melenguh.
“Jangan di situ”
lalu menepis tangannya menjauh. ia mencobanya sekali lagi dan aku
mendorongnya tapi justru tangannya sigap meremas pinggulku. dia
mendekatkan wajahnya ke arahku, lalu berganti ke area telinga dan sempurna
menggigitnya, aku terkesiap saat bibirnya kembali menyusuri leherku sambil
menggigitnya kecil. dia merapatkan tubuhnya yang terus menindihku. bibirnya mencari
bibirku. dengan perlahan mengecupnya kembali sembari menahan tanganku agar tidak
berontak. aku tidak berdaya dan mulai menerima kecupan bertubi itu.
Dia tahu persis selama ini
aku menolak bibirnya menyentuh bibirku. nyaris dua tahun kita bersama, dan ia
sabar menungguiku yang keras, batu, juga kaku ini mencair hatinya. dari sini
aku menegaskan
“Aku milikmu sayang,
tidak ada tempat lain untuk opsi manapun”
Bau parfumnya masih melekat di baju dan juga kulitku. aku suka pertemuan kecil seperti itu. membuatku rindu akan semua raga dan jiwanya yang sudah bertaut pada diriku. melekat erat mencari ruang untuk bersatu ~
0 comments:
Post a Comment