Harmoni

Walau kelopakmu sudah terkubur, tapi biarkan tunasmu tumbuh subur

Apa yang kumaksud sekarat adalah bahwa aku lama tersesat. mencari jalan pulang menuju kedamaian diri. duniaku terlalu senyap dan sepi, hening juga berisi kumpulan dari potongan perih.

Aku mengurungnya terlalu lama di dalam. menyulut amarah yang sekian lama diredam. sakitnya bukan lagi teriakan, bukan lagi bentakan, bukan lagi nada gusar nan bimbang. sakitnya berurai air mata kesedihan. aku pernah mendengar bunyi gema. mengalun pelan melewati gendang telinga, menerobos sanubariku yang remuk. kala aku kabur dari harapan memeluk bulan, nyatanya berpaling sama saja menguliti tubuhku.

Karena sebagian dari diriku tidak lagi tertarik menggali kuburan yang berarti membunuh rasa penasaran.

Bersikap peduli hanya milik jiwa yang sudah lama mati. kau bukan orang baik, aku juga melihat banyak cacatnya. tapi mungkin saja kebaikan dari orang lain adalah hasil yang kita tuai dari benih di masa lalu.

Satu

Dia satu. tidak ada tempat untuk dua, tiga atau seterusnya. hari di mana aku memutuskan bahwa siap menjalani hubungan dengannya, maka aku berpikir hanya memiliki satu.

Satu dari sekian miliar manusia di dunia ini yang ditakdirkan untuk bertaut denganku. satu dari banyak pilihan yang berlalu lalang dalam hidupku. satu dari banyaknya kisah yang tidak sempat aku nikmati di masa mudaku. satu dari catatan takdir yang sakral di tangan Semesta.

Dear, begitu dia memanggilku.

Aku teramat bersyukur memilikinya. sifat kami saling bertolak belakang dan aku rasa itulah sebabnya kehadirannya melengkapi celahku. aku tidak pernah benar-benar punya teman dekat, selama ini aku memilih menepi dan bertemankan dengan benda mati. karena aku tidak suka membaur terlalu lama dan kuberitahu sedikit rahasia kecil bahwa sebenarnya aku tidak mudah percaya.

Tapi dia mengambil risiko itu. entah berapa ratus kali pisau tajam itu menancap pada jantungnya lewat perkataanku. tapi ia membersihkan lukanya lalu mengobatinya sendirian untuk kemudian siap kembali ditikam. aku kejam dalam menghukum seseorang. aku yakin dia sudah sangat menderita, apalagi bertemu dengan perempuan batu sepertiku. katanya sudah biasa menahan perih sendirian, bisa kau bayangkan ibunya sudah lama berpulang. dia anak lelaki mandiri yang tangguh.

Dia satu.

Satu-satunya yang teramat dalam aku sayangi. teramat jatuh aku tangisi, dan teramat perih aku kasihi. dia mencintaiku lebih dari dirinya sendiri. dari mana aku tahu? dia tidak pandai berkata-kata namun tindakannya, perilakunya, sikapnya dan komitmennya menunjukkan bahwa “Aku akan mengorbankan semuanya untukmu, meski yang kupunya tersisa diriku

Dia satu. laki-laki yang berhasil merebut hatiku lewat usaha yang tidak putus. seseorang yang kupikir hanya melihat tentang kelebihan, keunggulan, keistimewaan saja nyatanya bersedia berdiri melindungi dan mengayomiku.

Satu yang aku yakini bahwa  perasaan berdekatan dengannya telah menciptakan harmoni ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram