Kalau kau bukan tempatnya pulang? lalu mau apa?
Manusia punya banyak
kesibukan di dunia ini. menyambung hidup, mencari validasi, mengurai
kekosongan, atau bahkan membunuh egosentris. jadi? menangisi seseorang karena
kau bukan pilihan adalah kesiaan. kau tahu bukan? hubungan yang terjalin di
atas pondasi kepercayaan dan kejujuran akan bertahan lama. sayangnya, tak kau
temui keterbukaan di sana. banyak ragu melintas di benakmu, banyak tanya
bertandang di kepalamu, juga banyak khawatir yang menggoyahkan tidur nyenyakmu.
Apa arti kebahagiaan dua
individu? salah satunya tak dapat dipahami dengan bahasa cinta. ada afeksi
sekilas namun penuh tipu daya. apa kesalahan akan kembali terulang? hei
dengarkan, ada dua orang yang masih mencintai kebebasan. keduanya belum siap
terikat karena takut pada tanggung jawab. keduanya masih bergeming memasang
topeng kedewasaan padahal dalam hatinya diselimuti kerapuhan.
Merintih, apa benar ia
tujuanku pulang?
Kau ingin menepis kepungan
kabut itu. bertanya di mana tempamu kini berdiri? apakah ia sosok dari impianmu
yang teralisasi? karena dia menyelematkanmu dari api depresi? menemanimu saat
kau belum memiliki pekerjaan, menyemangatimu saat kau masih belajar berjalan
mengarungi kejamnya kehidupan setelah kelulusan. kau sadar bukan? dia selalu
berada di sebelahmu, kadang di belakangmu, kadang juga dibawah untuk menepis
egomu.
Berapa kali katakan untuk
berpisah? nyatanya kalian kembali sebagai sepasang. berapa kali katakan
berhenti, nyatanya kalian kembali lagi. sesulit itu garis ditepis? apakah
deretan kenyataan itu menjadi kelabu dan menciptakan skeptis? Semesta maha
melihat, dia tahu kapan ketulusan seseorang sudah enggan diperhitungkan. jika
mau membuka hati sudah pasti yang tertanam adalah pilihan. tapi jika sudah
mengikat hati sudah pasti yang ditemui hanya prioritas.
Pertarungan doa dan harapan
mencuat di langit. berseliweran mencari rumah yang bukan sekadar persinggahan.
mengutuki manusia yang terlalu banyak minta namun enggan menyembah Pemilik-Nya.
Kau duduk termangu menampik
jemu. matamu sudah semakin tak terbaca.
Kira-kira sampai kapan kesendirianmu akan sirna, wahai anak purnama?

0 comments:
Post a Comment