Mahaduka

Entah doa siapa yang bertarung  di atas sana, sehingga semesta menunjukkan kebenarannya.

Memperlihatkan kenyataan yang sungguh pahit dan getir. haruskah aku membayar kesetiaan dengan air mata? orang yang selama ini kupercaya dan kuprioritaskan hanya menjadikanku sebagai pilihan. ternyata benar bahwa jarak adalah kebohongan yang manis.

Lalu Semesta? apakah aku harus menerima rasa sakit ini begitu saja? aku sungguh ingin memeluk diriku yang teramat mencintai luka. kalau saja perasaannya tidak mendalam mana mungkin ia murka ? apakah manusia sekejam itu ?

Kalimat “aku seharusnya sadar lebih awal” seperti sudah tidak berarti. Semesta, aku menerima takdirku bagaimanapun jalannya. asal jangan buat aku ragu dan bimbang menentukan pilihan. kehidupan orang tuaku sudah tercerai-berai. tolong, jangan buat aku menangisi orang yang tidak mencintaiku. bukankah dia beralibi bahwa sedang menyeleksi? bahkan orang yang sering ku kasihani mencari yang terbaik. lalu aku? menerima seseorang dengan semua cacat lemah kurang tak sempurna begitu saja.

Untuk semua rasa sakit yang kuterima hari ini. demi langit dan bumi, aku bersumpah memaafkan dengan balasan yang setimpal. jauhkan aku dari kebohongan dan kekejian manusia yang penuh dusta. aku berlindung dari segala penderitaan yang fana.

Diriku tahu betul perjalanan memahami dan menerima seseorang. tapi lihatlah? bahkan orang yang dulu mengaku buruk rupa justru menghina dan mencaci maki aku. orang yang sekiranya bisa diterima apa adanya justru giat membuat seleksi. Semesta? pantaskah aku menerima pengkhianatan ini? apa ini adalah hal yang wajar karena semua orang ingin yang terbaik untuk dirinya sendiri? tapi sungguh, yang ku  pertanyakan adalah apa aku akan baik-baik saja setelah ini?

Mungkin ini adalah fase paling hancur dalam hidupku. kemarin, aku mencintai seorang pria yang suka membandingkan diriku dengan pilihannya. hari ini, aku terlanjur mencintai pria yang menduakan cintaku untuknya. lihatlah, cintaku sudah habis untuknya. kepercayaanku pudar sepenuhnya, hatiku lebur seluruhnya, jiwaku remuk sejadinya. mataku gelap bahkan berniat memutus nadiku. sangat kecewa dan putus asa.

Semua sudah kuberi, jiwa dan ragaku kupersembahkan sepenuhnya untuknya. hanya dia satu-satunya dan terpikir untuk selamanya. tapi apa balasannya? aku harus membayar kesetiannya dengan air mata lagi dan lagi. aku tahu tidak sempurna, tapi sungguh demi langit dan bumi aku sudah mengusahakan yang terbaik untuk dirinya. aku menginvestasikan energi, waktu dan yang kupunya kepadanya. ah Semesta? jahat nian kehidupan ini.

Kenapa terus gagal membina hubungan? apa aku tidak pernah cukup baik bagi seseorang? bahkan sekali saja? apa aku terlalu menyedihkan untuk sekadar dicintai? apa begitu menyeramkannya sifatku sampai aku harus bertubi mendapat posisi sebagai pihak yang disakiti? rasanya lelah menjadi baik. rasanya lelah menjadi tulus.

Jika kutulis seluruh perasaan sakitku, maka akan tiada habisnya. seseorang mengkhianatiku teramat pedih dan aku tidak tau harus berbuat apa. seluruh intuisiku benar bukan? aku hanya perlu mencari bukti bukan? nyatanya semua dibenarkan oleh apa yang aku temukan. fakta bahwa dia memiliki pilihan lain selainku. marah? tentu saja. dia yang berusaha meyakinkan bahwa aku satu-satunya kini berbalik arah mengatakan bahwa khilaf dan menganggap ini adalah proses seleksi menentukan yang terbaik. Semesta, rasanya hatiku menangis mendengar ucapan itu.

Aku terlihat sangat bodoh bukan? kembali memberikan kesempatan pada orang yang sudah jelas mencurangiku. aku harus apa Semesta? haruskah kucerna semua penjelasannya dan permintaan maafnya? sedangkan dia sendiri tidak pernah berniat memberitahukan padaku kecuali karena kedapatan. menyembunyikannya diam dan dalam. pedih sekali rasanya aku menerima kenyataan ini Semesta.

Benarkah perasaan paling sakit adalah saat kita tidak berniat mencintai orang itu tapi ternyata sudah begitu dalam yang bersemayam ?

Lalu aku sekarang berdoa pada Tuhan Semesta Alam baik buruknya takdir-ku pasrahkan. jika sebuah hubungan adalah kepastian tolong jangan buat aku berjodoh dengan orang yang gampang sekali memudahkan.

Pesanku, jika berniat mencari yang terbaik maka temukanlah. tapi sebelum itu, tolong hapus seluruh komitmen dan ikatan kepadaku. jangan bermain culas seperti itu, sungguh kecewaku benar-benar sampai di titik nol. salahku apa padamu Dear? apa begitu mudahnya bagimu mengkhianatiku? aku yang berpikir jadi satu-satunya. ternyata hanya satu di antara pilihannya. aku yang menjadikannya satu-satunya pupus ditelan realita.

Tuhanku yang maha pengasih.

Aku meminta kelapangan hati yang bersih. berikan aku kekuatan menerima pahitnya kenyataan ini. walau bagaimanapun aku hanya manusia yang penuh dengan kerapuhan. pada-Mu ku menopang penderitaan. semua ketulusanku seperti benang merah yang kusut. tidak tahu di mana garis aslinya melintang. terbujur kaku bak potongan daging tak beraturan.

Tidak ada yang memberi tahuku tentang kegilaan ini. semua ku-ketahui murni dari instingku sendiri. kata hati seorang perempuan yang begitu dalam mencintai kekasihnya. mencari satu potongan puzzle yang mengggangu tidurnya. dia terpukau dengan panggilan alam. haruskah merayakan kesedihan ini?

Doaku berhamburan di tengah kesunyian. senyap kutelan seperti belati yang menancap di leher perumpamaan. semua pasrah aku dengungkan pada Tuhan Semesta Alam. tabahkan jiwaku, sirami kerontanku. aku butuh cahayamu untuk menelan kesia-siaan.

Dengarkan aku Nam? apa kau mau memaafkan? atau mengutuknya hingga kematian?

Sudahilah laramu Sayang. kau sudah cukup baik kepadanya. dia saja yang tidak pernah bersyukur punya kamu.

Maka setelah mengingat bagaimana aku menangis malam itu, mataku kembali berkaca lagi dan lagi. ternyata, aku belum seikhlas itu. menggampangkan rasa sakit lenyap dari dadaku. Oh semesta? betapa pedihnya mengarungi lautan perasaan. aku yang hanya menjadi persinggahan, aku yang hanya menjadi sekiranya batu pijakan. tanyaku berhamburan. sebab tak lain bukan ini awal kesepakatan. ya semua berhak memilih yang terbaik, tapi aku juga berhak memilih yang baik. apa yang aku harapkan darinya? semua cintaku sungguh tercurah kepadanya.

Semua orang ingin yang terbaik bukan? tapi apakah begini caranya? mencurangi pengorbanan dan ketulusan seseorang. dadaku nyeri sekali. mataku bengkak semalaman menangis tanpa henti. hanya di sini aku bisa menuangkan perasaanku setelah bermohon pada Tuhan. hanya di sini aku menulis kuasa tangis yang menyelimuti.

Aku seperti hidup pada puisi yang tidak pernah bisa kutulis sendiri. merintih di atas mahaduka ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram