Sekarat

Tak ada yang seindah matamu, hanya rembulan. tak ada yang selembut sikapmu hanya lautan. tak tergantikan, walau kita tak lagi saling menyapa ~ Kunto Aji “Pilu Membiru”

Seandainya saja semua perasaanku hanya omong kosong dan candaan semata, maka ketika mengetahui bahwa ada orang lain selain diriku aku akan biasa dan baik-baik saja. nyatanya, aku hancur lebur. menangis seperti itu baru ku lakukan sekali malam itu. selanjutnya, aku akan melanjutkan hidupku.

Rasanya tubuhku dikuliti hidup-hidup. dibakarnya di atas perapian yang bertumpu kayu bakar. seperti mengoyak habis kehidupanku bahkan sekadar untuk menghela napas. aku kira telah kehilangan separuh dari nyawaku. habis tak bersisa.

Menangisi nasib yang tidak begitu beruntung dalam hal menjalin hubungan. tubuhku sekarat dan entah terselip penyesalan ataukah tidak. karena tahu dalam tubuhmu ada segumpal kebohongan yang lama kau pelihara. dari bumi akan lahir dalam bentuk kehidupan lainnya.

Pada Semesta yang sungguh maha pengasih; kau memberiku cinta satu paket dengan luka ~

Dengannya, aku teramat pernah bahagia dengannya juga aku sekarat dibuatnya.

Sempat merasa berterimakasih karena diterima apa adanya sekaligus merasa dicintai oleh seorang lelaki, akhirnya patah juga karena dikecewakan kesekian kali.

Apa aku sebuah candaan bagimu? hanya tempatmu bersenang-senang? tempatmu menyuarakan kegembiraan? lalu mengapa membuatku begitu sedih? sekiranya hubungan kita hanya sebuah permainan, kenapa tidak meminta persetujuanku dari awal? dan kini telah sampai di ujung perih, karenanya ku katakan rasanya air mataku telah habis.

Aku memaafkanmu dan memberimu kesempatan kedua. itu karena aku masih mau kau menjadi bagian dari hidupku. aku menikmati disakiti sampai tidak sakit lagi. sekarang apa yang layak dipercaya? aku akan mengubur hidup-hidup perasaaanku. aku akan membunuhnya di usia ini. tanpa bertanya lagi kenapa, tanpa bertanya lagi buat apa?

Ya! sumpahmu! sumpahmu di hadapanku dan di hadapan ibuku.

Aku memaafkanmu. bukan karena kau layak menerima itu, tapi karena aku layak atas kedamaian diri. aku melepaskan semua rasa sakit yang disebabkan olehmu. kemarin kau menungguku lelah, kau menungguku marah, kau menungguku menyerah. pantas saja selama ini setiap ada masalah sekecil apapun jawabmu ingin berakhir. kau mau seolah menjadi pihak yang tersakiti. pergi karena merasa aku menyakitimu. dengan begitu kau bisa bersenang-senang bukan?

Lalu harga sebuah pengkhianatan itu apa?

"Bahwa kau akan menerima walau sedikitpun tidak meminta. Semesta akan memberimu sebuah perasaan di mana kau menyadari bahwa kau juga berharga. mungkin ketika mencintainya kau menjadi lupa bagaimana merawat dan menghormati dirimu sendiri. sehingga, kau akan disadarkan oleh kejadian berulang yang menurutmu biasa saja."

Tekananmu sangat besar bukan? kau harus mempertimbangkan orang yang membesarkanmu. mengikuti kemauannya agar dia bahagia sebagai tunas bakti yang bisa kau dedikasikan. kau tidak lagi punya pilihan kecuali menunggunya pergi atas kemauan sendiri.

Aku lelah dengan segala sakit yang terbentuk. rasanya sudah seperti menemui maut!

Sekarat!

Sekarat!

Di mana tempat memohon ampun. menyeka agony merundung?

0 comments:

Post a Comment

My Instagram