Elegi

“Bunga itu tetap ranum namun semakin bijaksana menempatkan duka”

Habis sudah ratapku dikuliti. tidak lagi ada pembelaan untuk tidak mati. 

Andai kau tau bagaimana dulu aku teramat mencintai keheningan. andai kau tau bagaimana rumah itu aku bangun di atas lara. aku menulis karena tidak ada yang mendengarkan. aku menyimak dan mencari bagian yang rumpang untuk kemudian berdamai dengan kesimpulan.

Aku bersama dengan nyanyian elegi pujaanku ~

Ku-kira ia hanya menganggapku sebagai seorang teman. mungkin ia seperti itu kepada semua orang, sikapnya yang ramah dan welcome kadang membuatku cemburu. terus terang saja, aku tidak menyukai bagaimana caranya berinteraksi terhadap lawan jenis karena terkesan friendly. sungguh merepotkan memiliki kekasih yang baiknya seluas samudera. jika bertanya, apa lagi yang tidak dilakukannya kepadaku? begitu banyak kepahitan yang menyeruak membentuk ragu.

Tapi aku bukan kebanyakan. aku mencintai dengan seluruh jiwa ragaku. karena prinsipku hanya melukai dengan penuh atau membasuh dengan seluruh, sungguh tidak ada kata separuh. apa aku begitu naif karena minim pengalaman? aku selalu berdoa pada tuhan semesta alam, berikanlah jodoh yang baik untukku di masa depan.

Setelah melakukan kesalahan, ia berniat memperbaiki. sesalnya, air matanya, ucapannya, perilakunya sudah jauh lebih menenangkan. kadang, aku bimbang ketika duduk berdekatan sedangkan ia asik bermain handphone. setelahnya, ia bahkan memberikan handphonennya kepadaku. membiarkanku mengecek apa yang mengganjal di hatiku. tidak kutemukan keganjilan,

Apa menyenangkan bermain dengan perasaan perempuan?

Aku tidak pernah membayangkan akan menjalin hubungan dengan orang yang begitu egois memikirkan dirinya sendiri. namun, jika diingat posisiku sebagai korban maka tiada habisnya meratap. aku juga tidak sempurna, jadi percayalah sesungguhnya saat itu akupun belum siap menjadi rumah untuk pulang seseorang.

Tuanku yang mencintai kebebasan dan indah berkelana? apakah aku tujuanmu sesungguhnya?

Tembang sulit menyayat hati. andai saja aku memiliki kesempatan seribu satu kali, sudah terbangun rongga misteri hidup ini. aku tidak datang untuk menyulam luka, tidak pergi untuk membakar sunyi. aku tetap merana dengan segala asing pada jiwa. teramat ingin merangkulnya beserta sedu sedannya.

Seorang anak perempuan bertumbuh dewasa. hatinya penuh kerapuhan masa remaja. kata seseorang “ia tak pernah muda” karena di usianya yang mendekati kepala tiga, ia justru masih berbahagia dengan asmara. baginya sulit mengemban komitmen. ia ingin menjadi prioritas tanpa mempedulikan perasaan empu di seberang sana.

Aku memejam  mata dengan bibir terkatup, menyudahi pahit-getir dunia yang diusung oleh perasaan kalut.

Sudahlah

Merawat bunga yang rapuh namun indah dipandang mata. ketika tangan dewasa menyentuh aku mulai kepayahan mencari penawarnya. hanya sebatas gurauan semu di atas kelabu. mana tiang penyangga sukacita?

0 comments:

Post a Comment

My Instagram