Sebelum memutuskan seumur hidup, bisakah aku keluar dari takdirku?
Masih bisakah aku lari? masih bisakah pilihan lain kutemui? aku seperti dipaksa duduk dan menikmati garisku sedang aku tidak siap sebelum menerima diriku. padahal terkadang, penderitaan tetaplah penderitaan. dia tidak membuatmu kuat, dia tidak membentuk karakter. dia hanya membuatmu jauh lebih sakit dan terluka.
Kenapa aku harus menerima cincin sedangkan aku masih membenci tubuhku? bagaimana mungkin aku menerima orang lain sedang aku masih ragu menerima diri sendiri? sesungguhnya aku ragu sama sekali mengikatkan diri dengan janji. aku ingin lepas, sungguh aku ingin mengejar cita-citaku yang lain. apa benar begini garisku?
“Tidak ada cinta untukku” demikianlah prasangka-ku setiap waktu. semuanya hanya kepuraan dan keterpaksaan. aku juga berharap bisa melepas ikatan ini. takdir yang membuatku merasa menjalani hidup orang lain. lalu kapan manusia berubah? saat kau tidak lagi sejalan untuk kepentingannya. manusia begitu bengis dan egois jika itu menyangkut dengan dirinya sendiri. satu-satunya yang membuatmu menang adalah dengan menjadi petarung.
Pertama-tama, aku harus menolong diriku
sendiri. jangan sampai ia larut dalam kesedihan mendalam itu. ia harus kutarik dari
lumpur penuh luka dan penderitaan itu. ia harus keluar dari sana atau terjebak
selamanya.
Kedua, aku harus mengubur perasaan ingin dicintai oleh orang lain. cukuplah ini kali terakhir merasa diterima dan diinginkan namun ternyata hanya perasaan ingin menguasai dan menyakiti. perasaan ingin dicintai oleh diri sendiri setelah mengalami kesedihan panjang adala jalan terbaik.
Ketiga, berjalanlah seapaadanya. jangan lagi ada ekpektasi pada manusia. jangan meletakkan kepercayaan pada siapapun. aku harus sembuh demi melanjutkan hidup. adakah suatu hari? lelaki yag mencintai sifat kekanakanku? bukan malah memprotesnya.
Sejatinya, petarung itu ada ketika manusia berdamai dengan diri dan takdirnya. karena petarung selalu membutuhkan ketenangan batin. mungkin beginilah jalannya. atau mungkin aku perlu tetap merasakan sakit, patah dan kecewa untuk tetap menulis.
Kini, harus lebih luas dan lapang, lebih banyak mengikhlaskan. lebih banyak melepaskan, dipenuhi ketabahan.
Kembalilah
seperti semula, belajarlah tidak mengharap apapun dari manusia.
0 comments:
Post a Comment