Semakin dalam mengenalmu, semakin aku tenggelam
pada lautan nafsu ~
Itu
sudah cukup lama sejak terakhir kali kita duduk berdua. aku kira ini akan menjadi
hubungan yang lurus saja setelah ia menebus dosa dan mendapatkan pencerahannya.
ini sudah lama sejak kami bertengkar hebat malam itu, sejak ia tak lagi memeluk
mesra atau membaui aromaku. rasanya sudah tidak ada lagi alasan untuk bercumbu.
aku kira kami sepakat mengakhiri kesenangan semu. kegilaan kami pada kedekatan
fisik yang hangat itu.
Kau tahu,
darinya aku merasakan banyak hal. darinya aku berani berfantasi liar. darinya
kudapati bibir yang sukarela bertaut. melepaskan gairah pada tubuh orang dewasa.
aku menikmati dan ia tak ingin menyudahi.
Nyatanya,
kami candu. saling menginginkan dan membutuhkan satu sama lain. sebagaimana keinginan
bertemu memadu kasih. perasaan yang timbul begitu kuat tertanam, sepertinya
mencintai ataupun dicintai adalah sumur bagi afeksi manusia.
Malam itu, seusai makan bersama ia duduk di
sebelahku. merebahkan kepalanya di pangkuanku. matanya menatap ke arahku,
seolah meminta jawaban "apa boleh kita seperti dulu." terlalu banyak
badai yang kita hadapi akhir-akhir ini, sehingga tidak ada waktu bersua
kembali.
Ia
duduk sambil merangkul pingganggku. terlihat wajahnya kian mendekat. bibirnya
mencari bibirku, ia menciumku lembut. teramat lembut sejak aku protes bisakah
mencium tanpa liar dan terburu? lalu kemarin, aku merasakan bibirnya sekejap
mendarat di bibirku. menjilat tipis tanpa memainkan lidahnya di mulutku.
sepertinya dia berusaha memperbaiki caranya menciumku sejak ku katakan kewalahan
menghadapi serangan ciumnya yang bertubi.
Ini lebih hangat dan intim, namun juga sedikit hambar karena aku merasa terlalu singkat dan tidak menggairahkan. sepertinya aku lebih suka ketika ia totalitas menjadi dirinya ketika menciumku dibanding menahan dirinya yang lain. bibirnya secara berhenti dan berulang memagut bibirku. jangan bayangkan ciuman liar seperti dulu, kami seperti candu namun seperti biasa kaku. bibirnya jatuh pada leherku, diciuminya dalam-dalam lalu kepalanya tidur di atas dadaku.
Namun, semakin lama semakin liar saja. kebiasaan lama tumbuh kembali dan sepertinya ia tak bisa menahannya. maka bibirnya mulai memagut mesra bibirku. dihisapnya dengan dalam, memasukkan lidahnya ke mulutku dan bergerilya di sana. aku mengulum bibir bawahnya sembari menarik rambutnya. napas kami terengah, acara berciuman itu sudah hampir vakum dua bulan lamanya. seakan melepaskan hasrat yang lama dipendam, digigitnya telingaku dengan hati-hati. bibirnya yang mungil itu menyusuri leherku yang basah oleh keringat. dikecupnya lamat-lamat di sisi kanan dan kiri bergantian.
Aku tidak bisa menuliskan bagaimana rasanya,
tangannya yang kanan merangkul pinggangku dan tangan kirinya memegang wajahku.
ia memagut bibirku berulang dengan liar. lidahnya tidak berhenti bermain di
dalam mulutku. itu terasa sangat geli dan basah. aku masih utuh berpakaian,
tapi tangannya mulai mengangkat dress milikku. meraba paha bagian dalam,
sekejap aku terperangah. menutup mata ketika merasakan sensasi getaran itu
menyerang tubuhku. ada sesuatu di sana yang sangat sensitif, jadi aku menepis
tangannya menjauh dari area terlarang.
Ia tersenyum tipis, kembali melumat bibirku penuh gairah. tangannya kini berpindah ke bagian dada depanku, perlahan membuka kancingnya dan meraba lembut dadaku. dikecupnya kecil sambil menghirup aromanya, kemudian mengancingnya kembali.
Cukup lama ia mencumbuku. nafasku memburu dikuasai oleh nafsu. ketika kedua tanggannya mendorong tanganku ke tombok, ia dengan leluasa memainkan bibirnya menyusuri leher dan bibirku. meninggalkan tanda kecil dengan gigitan manis seperti gula jawa. ia menggigit pipiku juga menarik ke atas rambutku agar lebih leluasa menciumi leherku. wajahku terlihat kusut tapi tersenyum ketika kudapati wajahnya begitu puas melihatku seolah meminta menyudahi. tangannya bergantian merangkul pinggangku serta meremas lembut dadaku. bibirnya berkeliaran di wajahku. terakhir, ia mengecup dahiku teramat lama, turun ke hidung lalu ciuman singkat di bibir. setelah itu kami selesai bercumbu.
Ciuman itu terasa liar dan panas. jika
tidak bisa saling menahan diri kami mungkin akan melewati batas. tapi ini bukan sekadar
cumbuan, pelukan mesra, ciuman nakal, juga beberapa adegan yang menggairahkan. ini adalah bentuk keterikatan emosional yang kami utarakan dalam hubungan. aku dan dia sama-sama sadar dan sepakat. jadi? tetap saja kegiatan ini hanya
berlangsung beberapa menit namun menunggu berbulan lamanya agar bisa terulang
kembali.
Terhitung sudah beberapa kali dia menciumku. pertemuan liar seperti itu menyisakan pagutan bertubi sehingga keinginan untuk bersua timbul kembali. banyak yang sudah terjadi menjelang tiga tahun terakhir ini. tentang bulan mei, tentang lily, tentang Saka, tentang ciuman liar yang memburu hasrat di jiwa.
.jpg)
0 comments:
Post a Comment