Mesra


“Pada akhirnya, pencarianmu akan bermuara bukan pada kesempurnaan melainkan penerimaan.” 

Mungkin satu-satunya orang yang bisa memahami perasaan kita adalah orang yang juga sedang atau pernah berada di posisi kita. sebab tak jarang kita menginginkan pengertian namun justru yang terjadi malah kegaduhan. banyak yang kita lewati untuk tetap bersama, masing-masing dari kami sudah berkorban.

Tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang. aku yang kurang memahami bagaimana caranya mencintaiku padahal dia sudah berkomitmen penuh pada hubungan ini. atau dia yang kurang memahami bagaimana aku ingin dimengerti dengan cara yang yang justru menyakitinya.

Darinya aku merasakan apa itu definisi mesra. meski ketika di keramaian dirinya enggan mengumbar cinta. senyumnya mengabdi ingin dikasihi. warna matanya hitam memukau, seolah ingin mengikat jiwa yang bertaut ini.

Kami bagaikan benang merah yang bagaimanapun berhasil menembus kabut takdir. sebuah perasaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya menjadi takdir. dijemputnya aku di ambang trauma, sejenak menenggelamkannya lalu membawanya ke permukaan bersih di atas sana.

Jalan kami menjadi mesra. ketakutan akan sentuhan pria itu sirna. ia membawaku menjadi candu dalam gejolak api berirama. kekuatan kami adalah ketabahan. bahasa kasih kami saling mengartikan kemesraan yang dalam.

Siapa yang tidak bahagia dipeluk oleh yang tersayang? semoga tidak ada kepalsuan rasa karena pernah berselisih sebelumnya. semoga semua prasangka curiga dan semena-mena luruh terkubur pada keikhlasan bumi. semoga yang diangankan tercapai di tahun berikutnya, antara kau dan aku menjadi kita.

Semoga mesra mendapatkan arahnya pulang ke dekapan yang sama, menciptakan tua yang dianugerahi kasih penuh cinta. Semoga, ya semoga ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram