“Bagaimana caramu untuk
balas dendam?”
“Aku akan melihat semua hal
indah di seluruh dunia kecuali dirinya” – Tales of the Broken Promises, Syaheza
Mungkin memang benar, kita
tidak akan pernah bisa dicintai jika belum bisa menerima diri sendiri
sepenuhnya. kita hanya bisa menyakiti orang yang memberi cintanya untuk kita.
sudah lelah menahan amarah, sudah letih menanti kasih. semua bagaikan duri yang
tertancap di relung hati.
Apa arti berdamai dengan
diri sendiri?
Merayakannya seringkali
dengan kepalsuan. kaki yang tidak pernah diajak menari, atau wajah yang
tersenyum di bawah matahari. cinta ini tak pernah dikenali karena pembuktian
itu terasa sia-sia.
Seringkali terlintas dalam
benakku; bertanya pada sang waktu. “apa kiranya solusi terbaik?” dan jawaban
yang kudapat adalah “kamu hanya perlu membiarkanku lewat”. tapi aku bukan lagi
anak kecil yang bisa dijanjikan sembuh hanya dengan menunggu waktu lewat tanpa
kepastian kapan.
Saat kita belum bisa
menyatakan berhenti berperang dengan diri sendiri, saat itu juga kita akan
membawa orang lain dalam problematika hidup yang membingungkan. kita akan
menyeret mereka memvalidasi perasaan sakit dan ketidakpercayaan kita pada
dunia. pada akhirnya, kita hanya menyiksa mereka dalam definisi kesempuranaan
milik kita.
Aku belum bisa melihat
celah abu-abu. yang kulihat hanyalah hitam dan putih, terang dan gelap, benar
dan salah, tidak pernah atau selalu dan iya atau tidak. aku belum bisa
menempatkan sudut pandangku pada pertengahan situasi, aku hanya mengambil satu
dari dua kesimpulan yang paling akurat dan aku tidak peduli sepenuhnya.
Sungguh, berkelahi dengan
orang yang menyayangi kita dan kita sayangi adalah hal yang menguras energi.
aku akan menangis, menghabiskan air mataku di tengah malam buta. kebiasaan
membasahi bantal dengan tangisan amatlah digemari manusia melankolis ini.
padahal, tidak ada gunanya tapi? masih diteruskan saja.
Jadi aku harus bagaimana?
semua begitu rumit mendengar bahwa aku tidak pernah siap dicintai karena selalu
menyakiti perasaan mereka. jadi, aku menyerah saja. aku tidak pernah
benar-benar sembuh dari luka.
Namun bagaimana jika? hal yang paling
menyakitkan adalah saat aku tidak tahu di mana tempatku berdiri. aku ragu
mundur, tapi juga tidak terlalu yakin melangkah. semuanya seakan abu-abu. aku marah dan tidak ingin berdamai dengan orang yang menyakiti. apakah itu karena
trauma?
Luka-luka dari masa lampau
yang tertidur di dalam diri kita, sampai tiba saatnya kita merasa dicintai maka
perasaan sakit hati itu muncul. semalam wajahnya bagaikan monster yang siap
menerkam. mataku berkaca memandangi wajahnya yang menyeramkan itu. bibirku
terkatup, baru kulihat rautnya semengerikan itu. tubuhku gemetar sama seperti
ketika aku menyaksikan bagaimana bapak memukuli ibu malam itu.
Katanya cinta memunculkan
perasaan-perasaan yang belum terselesaikan. saat kita lebih mencintai diri
sendiri atau dicintai oleh orang lain perasaan-perasaan yang selama ini ditekan
cenderung muncul untuk sementara mengalahkan kesadaran kita yang penuh cinta.
rasa sakit dari masa lampau itu diproyeksikan ke masa sekarang. cinta membuat
kita merasa aman untuk membuka hati dan menjadi sadar akan perasaan-perasaan
kita.
Jika kita marah, sekitar 90
persen kemarahan itu berkaitan dengan masa lampau kita dan tidak ada kaitannya
dengan apa yang membuat kita marah sekarang. umumnya hanya sekitar 10 persen
kemarahan kita berkaitan secara tepat dengan pengalaman masa kini.
Saat aku bersamanya, aku
jadi tahu bahwa aku ini adalah tubuh yang terluka. karena banyak perasaan yang
belum terselesaikan itu bermunculan, aku menjadi sangat peka terhadap sentuhan
biasa maupun tabrakan-tabrakan kecil dalam hubungan.
Ada pesan bahwa seseorang memintaku agar percaya, padahal kata
itu sudah lama musnah dari kehidupan. aku diminta mengesampingkan perasaan lalu menggunakan nalar. lalu diminta mematikan insting kemudian mulai
menikmati hidup dengan santai. seseorang memintaku tidak memikirkan atau
membuat hipotesa atas rentetan kejadian dengan siklus berulang yang membentuk
pola. tapi harusnya percaya bahwa amarah hanya membawa masalah baru bagi
hubungan kita. seseorang memintaku tidak banyak protes atas keganjilan yang
dirasakan dari perilaku yang tertutup dan misterius dan harus mempercayai
omong kosongnya.
Sesungguhnya aku terlalu rapuh
menerima fakta bahwa semua ini perlu sikap dewasa. mulutku tidak boleh
terus menerus diam dan mengatakan iya bahkan untuk hal yang sama sekali tidak aku sukai.
Dada ini terlalu sesak
menanggung amarah yang tidak dipertanggung-jawabkan sedari dulu. ledakannya
kian meresahkan. letupan demi letupan semakin terlihat di usia peralihan. mata
dan hatinya masih muda. telinganya belum siap mendengar dentuman serapah dunia.
Aku mulai berpikir untuk
sendiri saja dahulu. jika mencintai hanya menyakiti orang yang mengasihiku,
lebih baik kusimpan rapat-rapat perasaanku. menguburnya dalam-dalam kemudian
memberinya nisan.
Tidak lagi ingin merepotkan orang lain dengan perasaanku sebab murni ingin tenang dan lapang menerima kekalahan diri. aku selalu bertarung, dan kemenangan harus ku genggam. akhirnya, aku kepayahan.
Caraku mungkin terkesan
salah tapi demi langit dan bumi aku mencintainya. cintaku dibalut dendam dan
amarah. cintaku bertumpu oleh ragu dan rindu. cintaku hambar namun penuh
pemahaman.
Dia, satu-satunya cinta yang belum menyerah membersihkan noda amarah pada tubuhku ~

0 comments:
Post a Comment