Trauma

Dewasa ini, aku semakin membenci diriku.

Selain tidak bisa mengambil keputusan sendiri di tengah dilema yang rumit, aku benar-benar benci pada tubuhku. aku benci bentuknya, warnanya, bercaknya, juga kecacatan lainnya. aku benci rambutku yang kusut dan tak jarang berketombe. aku benci wajahku yang selalu berjerawat bahkan jika bekasnya belum hilang sudah muncul kembali. aku benci bibirku yang sangat malas tersenyum dan garis gigi yang tidak merata. aku benci bekas luka yang abadi di betisku sejak berumur tujuh. aku benci punggunggu yang berlemak dan perutku yang bergelambir. aku benci pahaku yang sangat besar dari kebanyakan. aku benci melihat lipatan lemak di lenganku yang menyesaki setiap memakai baju batik. aku benci  kakiku yang lebar. aku benci jemariku yang pendek dan gemuk. aku benci karena wajahku tidak simetris. aku benci kulitku yang tidak rata dan sangat kering.

Intinya, aku benci tubuhku.

Jangan katakan bahwa aku tidak merawatnya. aku memanjakannya namun sepertinya ini bukan hanya persoalan makan atau pola hidup saja. ini adalah trauma. karena aku tidak cantik, kejam dan menyebalkan aku rasa tidak mengherankan jika tidak ada yang tinggal. yang mengherankan adalah jika dalam kecacatan dan kekurangan itu aku bertemu seseorang yang mau tinggal.

Aku sungguh membenci tubuhku. semenjak remaja sudah penuh dengan amarah, dendam dan pengalaman menyakitkan. semua tergores sempurna pada tubuh yang sekarang ini ku bawa entah ke mana. aku lelah melihat diriku sendiri penuh dengan kebencian. aku tidak bisa menerima cacat kurangku di usia matang dan dewasa.

Aku tidak pernah takut ditinggalkan karena pada diri sendiri saja aku tidak pernah merasa cukup dan puas. aku membenci bagaimana aku tetap bersedih menatap di depan cermin. tidak secuilpun kelebihan kutemui. wajah yang penuh noda jerawat, tubuh dan lemak bergelambir, rambut yang kian hari rontok dan berketombe, kulit yang belang tidak merata, spot-spot gelap di lipatan tersembunyi, juga bekas luka di mana-mana tak kunjung pulih. 

Sepertinya aku benar-benar benci menatap cermin yang memperlihatkan kenyataan seadanya diriku. padahal aku sudah berusaha keras menyembuhkannya? banyak sekali produk kecantikan dan perawatan ku habiskan baik suplemen, sabun,bodycare, obat khusus jerawat dan rentetan skincare lainnya. kuhabiskan uangku untuk memperbaiki tubuhku, namun apa reaksinya? tidak ada. semua sia-sia dan seolah tiada guna.

Lalu untuk apa aku mendalami peran? tubuhku bagai seonggok daging tak berharga. aku melihatnya dengan penuh perasaan jijik, kasihan dan menyedihkan. sekiranya ada jalan keluar, aku ingin bertanya kenapa semua perawatan dan kesembuhan itu tiada berguna?

Bagaimana mungkin berdamai dengan sesuatu yang begitu dibenci? tubuhku seolah menghakimi diriku bahwa aku tidak pantas bahagia. aku tidak pantas disebut cantik, aku tidak pantas jatuh cinta, aku tidak pantas dicintai, aku tidak pantas merasakan intimasi, aku tidak pantas diperlakukan dengan istimewa. tubuhku seolah memberitahu bahwa aku jauh di bawah standar rata-rata kecantikan wanita. bahwa aku bukan termasuk perempuan yang diidamkan pria, bahwa aku begitu payah, bodoh dan tidak berharga. tubuhku memberitahu bahwa dengan keadaan seperti ini, aku selalu dipermainkan dan ditinggalkan.

Terdengar begitu miris, tapi demikianlah keadaannya. pikiranku mengatakan bahwa tubuhku, di sana ada yang salah. sesuatu yang disebut trauma. lama mengendap akhirnya menjadi manifestasi pada kebencian diri sendiri. aku berusaha keras membuat tubuh yang kusebut cangkang ini merasa berharga, namun nyatanya di sana sudah dilapisi api masa lalu yang melekat pada seonggok daging manusia.

Lalu aku harus bagaimana? aku mulai dari mana? aku tidak akan menulis perihal seperti ini jika saja ragaku mau diajak bekerja sama. bagaimana mungkin pikiranku sendiri mengatakan begitu membenci tubuh empunya, seolah mereka sudah berkelana dan berbeda jalan?

Sebab ketika aku merasakan kebencian pada tubuhku sendiri, aku pun merasa harus menyingkir dari keramaian dan kerumunan. tidak berhak mendapat tempat di antara mereka, padahal sesungguhnya aku juga ingin tahu bagaimana rasanya membaur. aku seperti terasing dan merasa insecure. lalu di mana kedamaian diri yang harus kutemui itu? biarpun semua usahaku menyembuhkan trauma pada tubuhku sia-sia, setidaknya biarkan aku merasa ada keajaiban dari mengupayakan sesuatu yang luar biasa.

Agar aku bisa sedikit banyak percaya. tidak melulu ragu juga skeptis bahwa kehidupan macam ini hanya aku yang mengalaminya. mungkin bagi sebagian orang ini terlalu sepele, namun bagiku? sungguh aku tidak punya tempat bercerita kecuali menuliskannya.

Tidak banyak yang kuinginkan. aku tidak mengagungkan kulit sebening porselin, tubuh bak manekin atau rambut selembut sutra. aku hanya ingin tubuhku sembuh dan sehat kembali. aku lelah memendam trauma yang menggerus fokusku sehingga menangisi masa lalu. aku seperti tidak bisa menerima atau memaafkan bagaimana tubuh ini tidak ku kenali namun mempengaruhi sembilan puluh persen kehidupan sosialku. aku benar-benar merasa sakit saat dia tidak berjalan selaras dengan pikiranku.

Jadi, aku ingin menuliskan ini kepada tubuhku, trauma hidupku.

Dear tubuh, sesuatu yang akrab kupanggil cangkang. kau membungkus dan mendadaniku layaknya manusia. kau lekat tumbuh bersama ingatanku sejak aku resmi terlahir di dunia. bukan tanpa alasan, di usia matang ini kau semakin menunjukkan penuaan dan kerapuhan. di situlah aku membencimu, karena kau tidak bisa membuatku merasa layak diperhitungkan.

Dear tubuhku. aku memikirkan ini begitu lama. sudah begitu banyak materi yang kita habiskan untuk menyembuhkanmu. keinginanku tidak muluk kau harus putih, mulus dan sempurna. aku hanya ingin kau melepas bentuk pemberontakanmu lewat celah-celah cacat yang membuatku membenci keberadaannya. bisakah kau mengasihaniku ? kita tumbuh dewasa di tubuh mungil yang dulu kecil dan muda. mengalami masa transisi dari kanak ke remaja. apa kau begitu terluka di usia belasan itu?

Dear tubuh. sakitmu adalah sakitku juga. tapi bisakah kita memilih sembuh untuk seterusnya? mari biarkan hukum alam bekerja. tolong jangan melapisi dirimu dengan api luka bejana. biarkan energy perempuanmu mengalir, biarkan ia menemukan jalannya pada setiap selmu. biarkan ia pulih dan membaik. biarkan ia berdamai dengan masa lalu yang sudah tidak akan pernah bisa diulang kembali.

Dear tubuhku, terbukalah pada setiap kesempatan. terutama kesempatan untuk jatuh cinta kepada diri sendiri. kenapa harus bermusuhan? tubuhku sayang, genggam tanganku mari kita berjalan beriringan melawan trauma.

Dari aku, sang perasaan.

0 comments:

Post a Comment

My Instagram