“Bunga merah memanggil yang lelah dibuatnya
rekah – Kanyaah”
Kata mereka ketika baru
mengenalnya “kau cantik ketika tertawa, matamu menyipit seperti bulan sabit”.
Namun kata mereka setelah
lama mengenalnya “kau cantik dengan luka”. walau bulan sabit itu
digenangi lautan lara.
Sebagian memanggilnya luka
yang indah namun mengerikan. apakah mereka melihat hatinya atau hanya
parasnya dengan mata sayu itu?
Yang aku perhatikan dari dirinya adalah sekarang
ketika memandang ke arah langit matanya selalu berkaca. mengucap terima kasih
pada pemberi hidup namun terselip keinginan agar selalu dikuatkan. sebab
hatinya begitu rapuh lalu seseorang kembali menghancurkan kepercayaannya yang
sudah sangat tipis itu.
Dear Nami,
Selamat ulang tahun sayang.
Panjang umurnya, bahagia
dan sehat selalu.
Semoga Semesta selalu
menyayangi Ibu, memberikan kesehatan dan keselamatan untuknya.
Selamat, karena tahun ini
kau menginjak tahun ke dua-puluh-tujuh. aku tahu, begitu banyak kejadian yang
sudah kau lalui untuk sampai di sini. banyak cita yang gugur dan impian yang
terkubur. tapi aku melihat kedewasaan pada matamu. ke mana keterbatasan itu
akan bermuara.
Jangan terlalu larut pada
kesedihan sayang, fokuslah pada hal-hal baik yang sudah Semesta berikan.
bersyukur dan berterima kasih. janganlah menghiasi hati kita dengan kemalangan
dan keterpurukan. mungkin ia melihatmu sebagai ketidaksempurnaan yang tidak
ingin ia terima. tapi percayalah, kau akan tetap berharga.
Selamat ulang tahun ya
sayang,
Mari bertepuk tangan
memeriahkan kedewasaan
Demi langit dan bumi,
Dia bertanya “mengapa bersama seseorang itu ia
tidak bisa lagi percaya?” apakah sia-sia mengumpulkan serpihan perih itu?
apakah sesungguhnya sudah tidak lagi ada yang tersisa?
Hatinya merekah bak bunga. setelah diguyur badai
topan yang menyedihkan. sebagaimana tidak diakui dan terus disembunyikan
keberadaannya. ia berdoa pada Semesta Alam agar menerima takdirnya. semoga
bahagia lekas menghampirinya.
Mengapa berusaha mengobati orang yang terus ingin terluka? biarkan dirinya merekah walaupun harus mendarah !
0 comments:
Post a Comment