Karsa

Bagaimana gambaranmu di masa depan dengan seseorang yang kau sebut pasangan?

Dulu sewaktu usiaku masih belasan tahun, aku membayangkan bahwa suatu hari akan memiliki seorang kekasih. seorang yang akan mengajakku jalan-jalan ke toko buku, ke bioskop, ke pantai menikmati senja dan lautan, ke taman, ke pusat perbelanjaan, dan beragam tempat lain bersama. sampai usiaku menjelang duapuluh lima barulah aku bertemu dia.

Entah bagaimana dia mencariku. entah bagaimana aku ditemukan. entah bagaimana caranya membujuk Semesta agar kami bertemu. benang merah itu ternyata saling bertaut. jalan panjang dan sendirian kunikmati dengan air mata berdarah. bekas tikaman yang tiada henti menghunus jantungku. beberapa kali aku mati di tubuh yang sama. berharap masih ada yang mau menemukanku dengan segala cedera dari duduk diamku.

Perjalanan hubungan kami tidak mulus dan lurus saja. ada begitu banyak hambatan yang melintang. aku yang tidak pernah begitu mempercayai seseorang mengikis kepercayaan dirinya yang sering kuserang. dia yang merasa tidak pernah cukup untukku, membuatku ragu akan melaju. begitulah seterusnya sampai kami dipisahkan oleh jarak selama dua belas purnama. ketika ia kembali, maka kupikir hatinya sudah lekas sepenuhnya mengabdi kepadaku, jadi aku berusaha percaya. tahukah? ada hati kecil yang berbisik untuk menanyakan perihal kejujuran. sebab, setiap kali kami saling marah ia ingin agar hubungan kami selesai.

Lalu, suatu hari kudapati setitik kebenaran yang lama disembunyikan. ia tidak yakin padaku, karena belum bisa melepaskan kebebasannya. ia memohon pengampunan. kesempatan memperbaiki dan juga meminta jawaban. atas apa? kapan aku bersedia untuk dipinang. ia berkata selama ini sudah begitu lama menunggu namun aku selalu lari dari pertanyaan sederhana itu. ia begitu ingin mengenalkanku pada orang tuanya sebagaimana dia sudah mengenali Ibu. ia ingin membawaku pulang agar segera diadakan lamaran.

Aku begitu mengabaikan dan tidak mengindahkan keinginannya. mementingkan diriku sendiri yang terpuruk dan kesepian padahal? ia berusaha keras ingin mengikat dan membahagiakanku. aku terlalu egois karena berpikir bahwa ia akan selalu setia menunggu tanpa jawaban yang pasti. aku lupa bahwa lelaki mahluk logis yang mengedepankan logika bukan?

Selama itu, aku baru sadar bahwa dia adalah lelaki yang jarang mengutarakan pemikirannya. lelaki yang jarang mengungkapkan perasaannya. seorang pria yang jarang menunjukkan emosinya juga jarang membuka keinginannya. segalanya begitu tertutup dan misterius. untuk beberapa hal mungkin ia banyak dan pandai berbicara, tapi untuk lebih intim dan dalam soal pembicaraan ia tak bisa berterus terang. seolah hubungan ini terkesan dangkal dan datar. Ketika berbicara kedalaman, ia terlihat ingin menghindar. ku-tanyakan dalam ragu, yakinkah dia padaku?

Aku gagal memahaminya sejauh ini. tapi sebenarnya dia sederhana saja. tidak mau merumitkan segala sesuatu yang sudah nyata. begini caraku memaknai kedalaman suatu hubungan. kita sedikit berbeda di sini, dia simpel dan aku rumit. atau sebaliknya? aku tidak ingin karena ketidak sepahaman ini menimbulkan perasaan sepi yang lama bertalu. sesederhana pertanyaannya, kapan bersedia menikah? apa sudah siap?

Sekarang, setelah aku memberikan jawaban. ia benar-benar berubah menjadi seorang pria. menghapus semua kontak perempuan di hpnya lalu membiarkanku memegang akun whatsapp-nya. lebih tepatnya, bertukar akun agar aku bisa tahu kehidupan sosialnya. ia menjauhi segala bentuk chat dengan lawan jenis dengan nada friendly maupun bercanda. ia fokus pada pekerjaan dan mengumpulkan dana agar tahun depan, kita bisa menjadi sepasang.

Kami memutuskan untuk berkomitmen sebagai sepasang kekasih yang jujur dan terbuka. aku tidak merasa begitu istimewa sebagai perempuan, tapi ia berhasil membuatku membangkitkan energy feminine ketika berada di dekatnya. ia berusaha menjadi masculine yang mendampingi dan melindungiku dari hiruk-pikuk dunia.

“Kuterima kembali dirimu yang pernah khilaf. ku-akui effortmu untuk berubah itu nyata karena kau dan aku sedang mengusahakan kita. kau mengaku salah dan berjuang agar kita menjadi sepasang.  jadi kuterima janjimu dan mulai focus memperbaiki. mengungkit masalalu tiada aka nada habisnya. aku akan belajar percaya bahwa kau sudah jauh lebih baik dari sebelumnya”.

Bukankah sebuah kekurangan akan selalu bersanding dengan kelebihan? beberapa sifat buruk darinya mungkin tidak kusukai tapi pasti ada juga sifat buruk dariku yang tidak disukainya. hanya saja dia tak seberisik diriku ketika mengutarakan sesuatu yang tidak kusuka. dia hanya diam dan menegur pelan-pelan. aku panas dan dia dingin, begitulah kami saling melengkapi.

Semoga Semesta menjaga hubungan kami. sungguh, dia satu-satunya orang yang berhasil membuatku setuju untuk menikah. hanya dia, berapapun banyak yang kutemui. terkecuali, dia sudah tidak menginginkanku lagi. tapi aku percaya, pilihanku tidak pernah untuk tidak menginginkanku karena ia satu-satunya yang melihat keindahan berbalut darah pada jiwaku. 

0 comments:

Post a Comment

My Instagram