Untuk kesempatan yang tidak
pernah berani aku ambil. untuk kejadian yang terlanjur lebur. untuk keputusan
yang sudah ada dan mengatur, dan untuk masa depan yang tidak bisa aku prediksi
kepastiannya.
Aku tidak lagi menggandulkan kakiku pada kalian. membiarkan rantai
berat menghalangi langkahku menikmati hari ini dengan mengamati pikiran kelabu
yang jauh menerawang. aku memaafkan diriku yang belum sepenuhnya bijaksana
menyikapi keraguan, amarah, dan ketidakseimbangan batin.
Semoga tahun ini tertutup dengan tenang.
Banyak keindahan yang kadang tak terlihat oleh mata telanjang. hanya bisa dinikmati ketika membuka hati. tahun yang panjang bersama orang
tersayang. semoga dilimpahi kesehatan sampai fajar.
Terima kasih aku haturkan untuk semua cacat-cinta mempelai
kehidupan. kita hidup bersandingan dengan dua sisi yang tidak bisa dipilih mana
yang ingin dirangkul lebih sering. semua bergantian menghampiri sesuai dengan
porsi yang ditetapkan. doaku, semoga tahun depan dilimpahi rasa syukur dalam
jiwa sebagai insan.
Astungkara – Semoga
terjadi atas kehendak-Nya
Aku pribadi menilai sebuah kebohongan yang kutemui tahun ini
terucap dari salah seorang yang kusayang adalah bentuk teguran dari Semesta
bahwa jangan terlalu larut pada dunia. semua orang bisa berubah tergantung
bagaimana posisi kita di matanya, apakah menguntungkan atau justru merugikan
atau bahkan tidak berdampak pada apa-apa. lalu aku menelusuri sejauh mana dusta
ini mengalir. ternyata, sangat panjang. seperti liku sungai yang berkelok dan
deras.
Kesakitan? Ah! tentu saja.
Bukan karena mendapati puing dusta itu sudah mendarah dari
pribadinya, tapi aku berpikir bahwa aku tidak pantas untuk sebuah kejujuran. jadi aku menyalahkan diriku sendiri. apa tidak cukup? apa tidak pantas? apa
kurang baik? apa salahku? aku terus menyiksa diri sendiri dengan pertanyaan
keji yang menanyakan seberapa berharga eksistensiku di matanya sehingga begitu
tega mengelabuhi dan memanipulasi kenyataan sebenarnya. sampai suatu hari
dirinya berhadapan denganku, bersumpah demi langit dan bumi semua perasaannya
padaku tidaklah palsu. mengikrarkan janji agar berubah dan memperbaiki diri. sejauh itu, aku tercabik sembilu. orang yang begitu kusayangi menghunuskan
belati tanpa belas kasih.
Aku menceritakan deritaku bukan untuk mendramatisir rasa. tapi
jika seseorang bisa membayangkan bagaimana malangnya hati seorang gadis diberi
makan kepedihan setiap malam. maka ia hanya menangis menjelang terlelap. bantalnya penuh dengan air mata. dadanya sesak menahan isak. malam penuh
keheningan dihiasi kesedihan.
Jadi hari itu? aku berani mengambil satu kesempatan yang ku kira
tak pernah bisa aku ambil seumur hidup. kesalahan itu bagiku fatal dan
menggeser value yang kuemban selama ini. aku memberinya kesempatan kedua
sekaligus memberi kepastian kapan aku siap dipinang. aku yang tidak pernah berpikir menikah dalam waktu dekat, namun harus diperingatkan oleh kehilangan. aku tidak
ingin menyesal melepaskan orang yang menginginkanku dan mencintaiku begitu
dalam. sekarang aku tahu alasan kenapa kemarin dirinya masih merangkul
kebebasan, ternyata karena aku belum bisa memberikan kepastian.
Tapi lihatlah sekarang? sejak kuberikan jawaban dirinya berubah
total. sekarang dia yang lebih sering menenangkan traumaku. aku bukannya tidak
percaya padanya, aku bukannya ingin mengingkari ucapanku, aku hanya ingin
berdamai dengan diriku tanpa menghancurkan segala puing-puing yang coba aku
bangun kembali.
Kadang aku masih terpaku pada masa lalu. itulah sebabnya, aku
selalu membahas yang sudah terjadi. menilik mahaduka yang luar biasa. katanya;
bukankah lebih baik memperbaiki? karena sekarang kau dan aku adalah kita.
Kita yang mengusahakan masa depan. katanya ; “aku menerima bukan hanya keindahan namun juga keburukan karena kau
adalah bentuk penerimaan yang teramat aku tuluskan. aku cinta sama kamu, aku
sayang sama kamu, aku tresno sama dirimu”
Dari sini aku belajar bahwa cinta adalah konsistensi. bukan
perasaan naik turun pribadi. cinta itu stabil namun tidak menutup kemungkinan
penuh gejolak di dalamnya. tapi tetap saja, cinta sejati membuatmu bisa leluasa
dan tanpa beban menjadi diri sendiri.
Terima kasih tahun ini. akhirnya bagian dari diriku mau membuka
hati. akhirnya aku membiarkan seseorang mendampingi tumbuh mekarku. akhirnya
aku belajar arti memaafkan diri sendiri.
Sekarang yang aku miliki
adalah yang sudah terseleksi. bukan menggerutu tapi justru berterima kasih atas
segala keberlimpahan yang menghampiri. rasa syukur yang tak terkira, peralihan
pemikiran menjadi lebih bijaksana.
Bertaut, Mahakasih Semesta ~

0 comments:
Post a Comment