Energi Positif

Trust the vibes, energy never lies

Kau bisa berbicara dengan seseorang dalam waktu singkat namun merasa begitu kelelahan. kau bisa duduk di tempat yang kotor dan berantakan lalu merasa begitu kepayahan. segala sesuatu di sekitar kita memancarkan apa yang disebut energy. mempengaruhi sebagian besar reaksi dan respon tubuh kita. jika terlalu sering berada di sekitar yang menguras energy maka lama kelamaan kita akan merasa exhausted.

Sebagai introvert, saya lebih sering ditemukan sendirian daripada berinteraksi dengan orang-orang. kecuali di tempat kerja dan harus mengemban tugas sebagai Customer Service (CS) maka, saya mau tidak mau harus aktif bersosialisasi. membantu dan melayani kebutuhan pelanggan sesuai tupoksi perusahaan.

Saya tahu, ketika berhadapan langsung dengan orang lain itu artinya kita sedang bertukar energy. saya menyerap energy mereka yang kebanyakan mengutarakan keluhan. tubuh saya menyerap sebagian besar energy yang dipantulkan oleh orang tersebut. jadi ketika pulang kerja, saya begitu merasa kelelahan dan memilih untuk istirahat untuk mengulang esok harinya kembali.

Tidak, bukan berarti saya membenci pekerjaan saya. mendengarkan dan membantu orang lain menyelesaikan complain dan problem mereka berimbas pada kepuasan positif dalam diri saya. sayangnya, jika keluhan itu tidak mendapatkan jalan keluar dan membuat customer kecewa atau marah, maka saya merasa energy itu menular pada diri saya yang awalnya netral.

Mengisi kembali dengan membaca atau menulis di sela-sela kesibukan tugas kantor adalah hal yang kerap saya lakukan. mengunjungi ruang admin dan berkelakar sejenak bisa membuat tubuh saya kembali rilex. memesan makanan sehat seperti buah untuk camilan setelah makan siang juga membantu saya mengembalikan energi saya yang lepas setelah berhadapan dengan customer. mendengarkan lagu ketika senggang terutama memutar penyanyi favorit saya Lana Del Rey bisa merefresh kembali otak yang rasanya penuh.

Energi itu jelas menular. di tempat kerja saya tidak banyak memberikan energy positif di sekitar saya karena jujur, saya jarang tersenyum kecuali memang seharusnya ramah dan menyambut customer. pada rekan kerja, saya sering dinilai serius dan tidak suka bercanda. oh ya, mungkin kaku namanya. seperti itu kesan beberapa orang yang jarang memuji saya sebagai orang yang jarang berbicara kecuali jika perlu.

Saya berusaha melindungi energy saya dengan menjauhi drama di tempat kerja. sebisa mungkin menghindari kerumunan orang yang suka bergosip. saya membatasi diri untuk tidak mencampurkan urusan pribadi dan bekerja secara professional. tidak memasukkan cemohan orang sekitar tentang bagaimana penampilan fisik saya dan terus memperbaiki diri dengan mengasah skill. awalnya begitu rumit, tapi dengan menentukan skala prioritas saya jadi tahu, bahwa tidak semua hal harus menjadi urusan kita. beberapa hanya perlu ditempatkan sesuai porsinya.

Menjadi manusia dewasa tentu tidak mudah bukan? tapi setiap dari kita yang terlihat pasif, diam, dan menjauhi drama ternyata hanya ingin melindungi energy kita agar tidak terkuras begitu saja untuk hal yang bukan menjadi prioritas utama kita.

Ada beberapa part dalam hidup saya yang tidak ingin saya ulang. cukup sampai di situ, cukup sekali itu, dan cukup tau begitu. dewasa ini, saya ingin merangkul semua cacat lemah, hitam putih, baik buruk yang ada pada history hidup saya. sebagai manusia tidak perlu menjadi sempurna, cukup menjadi nyata dan terus belajar menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Entah kenapa, menanggapi semua hal terlalu serius itu justru menyiksa. termasuk cara saya bereaksi selama ini. memusatkan perhatian pada hal terlalu serius membuat kita lupa caranya bersenang senang. saya jadi memikirkan sesuatu yang sungguh sepele dan tidak penting hingga berulang-ulang. saya menerima gurauan sebagai ajang manusia tidak dewasa.

Itulah sebabnya saya merasa menjadi orang paling aneh dan tersingkirkan ketika tidak menangkap maksud dari sedikit candaan yang sesungguhnya membuat hati kecil saya riang. saya menjadi takut bahan pembicaraan, saya takut tersinggung, saya takut terluka, saya takut tidak dapat merespon dengan seharusnya, saya takut dinilai payah, saya takut menyuarakan pendapat saya, saya takut menjadi tertawaan, saya takut menjadi pusat perhatian, saya takut salah.

Nah, perhatikanlah. bagaimana dampak menanggapi dengan penuh semua hal terlalu serius. saya tidak punya ruang mengekspresikan diri di kehidupan sosial. banyak murung dan menghabiskan waktu sendirian. saya menjadi percaya bahwa saya berbeda dari kebanyakan. saya menjadi begitu selektif dan bahkan terkesan memilih teman. saya tidak punya hal lucu yang benar-benar menghibur hati kecil saya yang kadang butuh teman.

Menanggapi hal terlalu serius membuat saya tidak memahami jeda. semua saya anggap beban yang memberatkan. tanpa sadar, saya bahkan merugikan orang-orang di sekitar saya. ibu saya, kekasih saya juga. tak jarang, saya sering marah sia-sia, menangis dengan alasan tidak masuk akal, menyakiti mereka dengan perkataan saya. merasa paling benar dan menang sendiri. saya merasa tidak dipahami karena menanggapi semua hal terlalu serius. lihat bagaimana kehidupan pribadi saya berjalan?

Sekolah, belajar, tidak mengembangkan bakat di luar, kuliah, pulang, ke perpustakaan, tidak pernah berpacaran semenjak remaja, dan inilah satu-satunya kekasih saya selama ini. saya begitu tinggi menempatkan standar yang harus seseorang miliki untuk bersanding dengan saya, dalam hal ini kematangan berpikir, kedewasaan, dan hubungan dengan Tuhan. saya justru mengenyampingkan mengenai rupa fisik, profesi atau nominal dalam kekayaan. 

Begitu tinggi ekspektasi kriteria pada kekasih saya suatu hari, namun justru akhirnyaa saya dibuat jatuh cinta lewat kebiasaan dirinya yang perhatian dan suka bercanda. saya kala itu, tidak pernah sedikitpun terpikirkan bahwa dialah yang berhasil merebut hati saya yang batu. dia yang memangkas semua aturan yang terlalu tinggi dan berat bahkan ketika saya membayangkannya ada pria dengan pemikiran seperti itu.

Lihatlah, bagaimana cinta menghampiri hidup saya dengan memberi celah tidak semuanya harus ditanggapi dengan serius. awal mula hanya mengantar saya ke kediaman kerabat, kemudian intens bertukar pesan, memasak bersama, memberikan saya aneka makanan dan minuman kesukaan, juga barang-barang di hari ulang tahun istimewa. lihatlah? hal-hal seperti itu tidak pernah saya izinkan masuk sebelumnya, saya menolak segala bentuk perhatian laki-laki yang berusaha mendekati saya. namun dirinya? justru berawal dari keisengan menerima yang tidak pernah terpikir bahkan kami akan menikah tiga tahun setelahnya. ya, semoga tahun depan.

Energi itu berpengaruh besar pada kehidupan kita, jadi jagalah dia tetap positif di tengah daya tarik- menarik sekitar kita.

Jadi, saya berkomitmen bahwa mengitari diri kita dengan energy positif jauh lebih baik dibanding memelihara energy negative. mungkin terlalu lama memendam emosi yang tidak baik seperti dendam, sakit hati, marah, kecewa tanpa memiliki sarana yang tepat untuk menyalurkannya menjadi rasa sakit untuk diri sendiri. saya sering kesakitan pada punggung dan perut sebelah kanan diikuti kembung, mual dan muntah. entah karena pola makan tidak teratur ditambah lagi dengan pikiran yang kacau membuat tubuh saya memberi reaksi negative.

Dulu, saya yakin penyakit fisik disebabkan hanya oleh pola hidup saya, namun ternyata juga berasal dari kebiasaan memelihara perasaan negative dan memendamnya dalam jangka waktu yang lama. 

Tapi jika kita memilih bahagia dan merawat pikiran agar tumbuh dengan kebajikan serta nilai-nilai positif, maka percayalah Semesta akan mendekatkan dengan sesuatu yang baik juga.

Tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. cukup dengan mengawali hari dengan afirmasi positif; terima kasih atas nikmat syukur yang Semesta limpahkan sampai hari ini. bangun lebih pagi menikmati cahaya matahari. menggerakkan badan atau bermeditasi. mandi pagi juga minum air putih. berangkat kerja dan fokus terutama bersikap jujur. ibadah sesuai keyakinan individu. memilih makanan sehat seperti buah dan sayur dibandingkan makanan produksi pabrik demi tubuh kita. menjaga lisan dan mengurangi intensitas berpikir yang bahkan belum terjadi. introspeksi diri tentu saja. tidur malam tepat waktu agar waktu istirahat kita cukup untuk beraktivitas keesokan hari lagi.

Rumus membangun energy positif  sebenarnya tidak rumit. sama seperti ketika menanamkan kebiasaan baru. saya rasa sudah begitu banyak dirugikan dengan memelihara energy negative selama ini. saya ingin mengubah mindset saya bahwa segala sesuatu di dunia ini bergantung pada bagaimana kita menanggapi.

Intinya, selalu bersyukur atas setiap yang terjadi. menerima apa yang sudah terjadi, dan ikhtiar untuk kegiatan kita hari ini. seperti yang tertera di awal tulisan; percayalah pada getaran, karena energy tidak pernah berbohong. ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram