Warna

Saat aku dituntut oleh sekitar menjadi lebih sering berhadapan dengan luka, anak kecil dalam diriku merasa tak terima. aku masih butuh dilindungi, aku selalu butuh dikasihi, aku tidak ingin disakiti oleh kata-kata kotor dan keji dari mulut manusia. aku penuh kerapuhan dan menjadi begitu tak berdaya ketika mendengar ucapan tak beradab menusuk hati.

Kendali memang ada pada diriku sepenuhnya, namun hei aku bukanlah perempuan yang tegar. aku merajut setiap senti patah yang Semesta berikan. rasanya, semua orang semakin kejam dan seram. melihat dunia yang luas berlimpah kebaikan seperti dalam bayangku hanya hadir di kerjaan imajinasiku. kehidupan ini begitu pahit hidup berdampingan bersama manusia dengan kemampuan nalar yang tumpul.

Ah. maafkan aku. bukan maksudku menilai pribadi sembarangan. aku hanya muak dengan kesedihan yang larut begitu dalam di darahku. hati dengan sentuhan melankolia tidak mampu membentengi lebih lama gelombang amarah. memang sedari awal tidak mampu bukan? hanya saja belagak kuat untuk bertahan.

Sudah berapa lama aku berumah di sini? karena aku tidak pernah pandai membaur. bahkan kepada keluarga kekasihku, aku merasa asing. tidak seperti kebanyakan orang, aku terlalu jatuh pada prasangka sehingga melenyapkan kesempatanku untuk berbahagia. aku terlalu percaya pada ilusi negative yang membutakan warnaku. sungguh berat menjadi orang dewasa. sayatan itu membentuk trauma pada waktu yang sudah sangat lama. meski terkutuk namun ada bukan kesempatan untuk sembuh?

Akhirnya aku berontak, dunia itu terlalu mengagetkan untukku yang  baru dewasa selalu aman dalam dekapan ibu. lihatlah betapa mengerikannya hidup ini disambut dengan sejuta prasangka. 

Aku memaafkan, aku mengampuni, melanjutkan hidup yang sekarat ini. merangkul amor fati ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram