Kanvas

Ada waktu di mana aku menulis sebagai bentuk pukulan yang keras bahwa aku tidak tau apapun tentang dunia. begitu banyak pertanyaan yang menggenangi kepala seolah meminta jawaban saat itu juga.

Termasuk pertanyaan apakah ia nyata? atau ilusi yang selama ini kupelihara?

Perasaan ingin menguak kehidupan seseorang yang sudah bersamaku selama ini tidak dapat dibendung. aku bahkan tidak memiliki alasan khusus mengapa begitu ingin tahu dirinya di masa lalu. kecuali dorongan menggenggam dan menguasai lebih dominan.

Sebagai pasangan bukankah itu hal yang wajar? di mana letak salah nilaiku yang ingin mengetahui seluk beluk dirinya terutama menyangkut masa lalu? bukankah wajar menanyakan hal di belakang sebelum melangkah ke depan? ini pedih, karena aku harus menerima kapasitas mencintainya tidak sebesar milikku atau bahkan mungkin kapasitas mencintaiku tidak sebesar miliknya.

Siapa yang tidak menangis ketika perbedaan pendapat menimbulkan suara yang tinggi? dirinya merasa kurang untukku, sedangkan aku hanya ingin ditenangkan untuk masalah yang kadang tak bertuan. dia terlalu membela dirinya sendiri karena aku tidak mendapat rasa prihatin. siapa yang tidak muak mengulang perdebatan yang sama di tengah malam buta? dengan penuh kelelahan dan air mata mencoba menjelaskan satu sama lain. dia dengan nalarnya, dan aku dengan perasaanku.

Mencintai seseorang bukan hanya tentang apakah kita bisa tersenyum setiap hari? tidak. menjelang tahun ketiga kami bersama, rasanya begitu banyak badai menerjang. aku tidak pernah percaya bahwa aku pantas untuk seseorang namun aku selalu berusaha memberikan yang terbaik selama ia masih dalam jangkauanku. jadi kutulis kalimat kecil ini untuk merayakan kebersamaan kami sampai saat ini;

Aku akan mencintaimu secara ugal-ugalan terutama karena kau sudah mencintaiku secara brutal. sejauh ini kita masih belajar saling memahami bukan? hubungan ini berjalan lambat dan terjal, tapi masing-masing dari kita telah bertumbuh agar bisa menjadi sepasang. ah kekasih, yang tahan dengan sifat kerasku serta yang bisa melembutkannya hanya kamu seorang.”

0 comments:

Post a Comment

My Instagram