Tuan,
marahmu hanya sebentar. hari ini murka namun esok sudah reda. kau tiada
memendam dendam layaknya aku yang enggan
memaafkan. kau melembutkan hatiku yang keras dengan tabahmu yang menyadarkan.
Tuan,
takdir kita sudah tertatih sepanjang jalan. rute kita tidak semulus
pendahuluan. banyak duri bertaburan, prasangka tanpa pembuktian, atau kejadian
tanpa perkiraan. semua kita lalui dengan banyak tekanan.
Saat
kita memutuskan menjadi sepasang dan Semesta telah mengaminkan, aku menjadi skeptis
apakah pilihan ini akan berjalan lurus ke depan. aku bukan bunga yang dirawat
dengan keberlimpahan dan keutuhan. aku ibarat tanaman liar di satu pot yang
dirawat oleh pemilikNya. banyak bagian diriku yang rumpang, karena itu aku
menciptakan duri untuk melindungiku hingga mekar.
Tapi
tuan? tanganmu rela berdarah untuk menyentuhku. kelembutan hatimu berhasil
menciptakan harmoni yang membuatku mengeluarkan wewangian. kau mengajariku
tumbuh menjadi seorang perempuan. kau membuatku ingin belajar menjadi keindahan
yang kuberi hanya untukmu seorang.
Hai
Tuan, berapa banyak aku menyakitimu namun kau tetap stabil dalam guncangan? berapa
lama aku mengutarakan tuntutan agar suaraku kau dengar? kadang, kau berada di
selisih paham yang tidak kuinginkan. rumit sekali menyatukan perasaan percaya
pada sederet trauma di masa lalu.
Tapi
aku ingin sembuh sepenuhnya. membuka lembar baru bersama tuan yang bijaksana
menyikapi luka. aku ingin sembuh dari siksa prasangka, mengarungi bahagia
bersama tuan semata. aku ingin berhenti menjadikan derita kemarin sebagai senjata
agar tuan prihatin dan tiada berani menghunuskan belati, aku ingin bersama tuan
sampai mati.
Tuan,
akhirnya aku menemukan sosok Segara dalam dirimu. bagaimana kau memelukku, menciumku,
membelaiku, menyuapiku, merawaktu ketika sakit, mengajakku jalan-jalan; ke toko
buku, ke bioskop, ke taman, ke pantai. ke manapun aku mau.
Tuan,
pada akhirnya kau definisi kesempurnaan yang aku cari. bukan berarti seluruh
yang melekat padamu memenuhi imajinasi, namun sebuah penerimaan yang sudah lama
aku nanti. sebagaimana kau menemukanku, aku juga telah menemukan dirimu
melengkapi bagian kosong dari jiwaku.
Tuan,
semoga bertaut ini bersifat selamanya. hingga suatu hari kita pulang ke tempat
yang sama ~

0 comments:
Post a Comment