Tanggal 27 desember 2025
kemarin aku menikah. seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, pernikahan ini
terlaksana sederhana, khidmat dan intim. hanya dihadiri keluarga dan teman
dekat. tanpa perayaan megah, tanpa kursi pelaminan, tanpa dekor atau tanpa
hiburan. tapi apa? banyak yang mendoakan, banyak yang menghadiri dari
perkiraan. keluarganya, beberapa orang keluargaku, tetangga dan teman kerja.
banyak kado, banyak cinta, ah pernikahan ini tidak memakai undangan. tapi
rasanya direstui oleh semesta alam. terima kasih, aku senang!
Setelah akad, sorenya kami
memutuskan untuk menikmati waktu berdua di sebuah hotel di kota yang sama.
untuk pertama kalinya, kami sholat subuh berjamaah. dia mengimamiku sebagaimana
perannya. sampai saat ini, kami selalu sholat subuh. di pagi buta yang dingin,
aku yang terbiasa terlelap, dia mengelus rambutku lembut dan membangunkanku
untuk mengambil air wudhu. aku tidak tahu apa ini romantis atau justru biasa
saja, kiranya ini pengalamanku yang baru sebagai istri. melengkapi ibadahku
yang selama ini masih banyak celahnya.
Satu bulan sudah pernikahan ini
berjalan. kami berdampingan lebih sering. meyuap dan disuapi, memeluk dan
dipeluk, dicium, disayang. aku tidak merasa tertekan misalkan ketika hari
libur, aku dibiarkan tidur hingga siang setelah sholat subuh tentunya. aku
tidak dituntut untuk bisa memasak, bahkan kalaupun dia mencuci pakaian dengan
mesin, aku yang melipatnya di lemari. dia mengantar jemput aku setiap hari,
walau posisi dirinya juga sedang bekerja. aku mencintainya dengan seluruh usaha
dan tanggung jawabnya. aku mencintainya, karena dia selalu menghormati ibuku.
sekarang, dua mahluk yang paling kusayangi ini, semesta. tolong jaga selalu
mereka.
Bapakku jauh, tapi beliau tetap
peduli padaku. pada saat pernikahanku kemarin, bantuan restu dan materi sudah
diberikannya. aku rasa itu sudah lebih dari cukup, walaupun tidak langsung
datang menikahkanku, tapi melihat usahanya untuk mengambil peran sebagai orang
tua sudah cukup membahagiakanku. aku sudah berdamai dengan segala luka yang
pernah terjadi antara bapak dan ibu. bapak berdoa, ibu juga, semoga
pernikahanku langgeng sampai maut memisahkan kami berdua.
Air mataku menetes menulis ini.
ingat betapa berat rasa trauma pada masa lalu dulu sudah bisa aku temui. Aku bangga
karena sudah mampu membasuhnya. perjalanan dalam pernikahan ini akan sangat
panjang, kami menjaga dengan ikrar komitmen, kesetiaan dan kasih sayang. aku
tidak tahu kapan tepatnya akan menghadapi ombak dan benturan, tapi aku berharap
akan terbentuk sebuah keluarga yang harmonis. saat kami dikaruniai keturunan
nanti, semoga kami sebagai orang tua sudah cukup layak memberikan penghidupan
yang layak dan penuh cinta kasih kepadanya.
Aku tidak ingin anakku merasakan kekurangan dan penderitaan yang pernah kami rasakan. mungkin masa lalunya dipenuhi dengan keterbatasan materi, apalagi mengingat dia dibesarkan oleh budenya. ibunya meninggal saat dirinya baru bisa tengkurap, ayahnya menikah lagi. kedua, ketiga, tanpa pernah memperhatikan dirinya sampai dewasa. aku pun juga merasakan kepahitan masa lalu, pertengkaran dan perpisahan orang tua membuatku tidak mudah percaya siapa-siapa.
Aku berjuang sendirian melawan
kesepianku. anak pemurung, pendiam, pemarah dan tidak banyak teman sudah
melekat pada kepribadianku. aku lebih menghargai kualitas daripada kuantitas,
itu sebabnya aku tidak punya “banyak” dalam hal apapun, kecuali mungkin dulu,
buku. namun sekarang sudah berkurang, aku tidak punya banyak karena aku ingin
menerapkan gaya hidup minimalis.
Bagaimana pernikahan ini? satu
bulan pertama cukup menyenangkan. mungkin tetap timbul perdebatan dan konflik,
tapi semua bisa diteduhkan dengan komunikasi dan diskusi. tidak selamanya
hubungan ini datar dan lurus, ada saatnya juga tangki cinta kami berada pada
titik rendah. sikap dingin yang muncul tiba-tiba, atau perasaan cemas berlebih,
rasa sedih dari tempat kerja yang dibawa pulang ke rumah, stress terhadap
pekerjaan lalu melampiaskan amarah pada hal-hal sepele. semua itu jangan
lewatkan, karena itu cintanya harus lebih besar. ia mengalah, mengayomi,
melindungi, membimbing, merangkul, menasehati, mencukupi sebagaimana tanggung
jawabnya sebagai seorang suami.
Fase ini menyadarkanku bahwa
aku tidak lagi muda. usiaku tahun ini dua puluh sembilan tahun di bulan juni.
suatu hari kemarin kutemukan satu helai rambut berwarna putih diantara lebat
dan hitamnya rambutku. menandakan bahwa aku memang sudah berumur. minggu lalu,
aku menyadari ada yang berbeda dari wajahku tepatnya di bawah mataku sebelah
kiri. ada satu garis halus muncul, halus sekali. sampai butuh penerangan yang
cukup untuk bisa melihatnya. dua tanda ini menamparku, bahwa mungkin penuaan
adalah hal yang pasti.
Ternyata, aku bukan lagi anak
kecil yang terjebak pada situasi melayang tanpa kesadaran. aku sudah pandai
memberikan nama dan makna untuk setiap perasaan yang kutemui. aku bukan lagi
perempuan yang mengenakan seragam merah-putih, biru-putih, atau abu-putih, yang
masih polos dan lugu. aku bukan lagi seorang mahasiswi universitas yang
kerjanya pulang-pergi hanya untuk kuliah dan mengejar ipk. aku bukan lagi
seseorang yang ambisius dalam mengejar cita-cita. aku sudah cukup siap menikah,
itu artinya aku sudah siap untuk merasakan kehamilan dan menjadi seorang ‘ibu’.
bukankah perempuan dibekali dengan tubuh yang luar biasa? karena ia ditakdirkan
untuk melahirkan kehidupan. jadi selama masih sempat dan masih bisa, aku ingin
merasakan menjadi seorang ibu.
Aku ingin menamai tahun ini sebagai “tahun bintang”. ada
harapan besar menanti di alam bawah sadar yang ingin segera aku wujudkan.
kenapa bintang? sebab bintang mewakili kemakmuran, keberlimpahan juga cahaya
terang seperti harapan yang memanifestasikan segala hal yang mustahil menjadi
kenyataan. aku percaya, bahwa tahun ini akan memberikan kebahagiaan untuk
keluarga kecil yang sedang kubangun. aku ingin ibuku diberikan kesehatan dan
panjang umur sementara kami mewujudkan satu impiannya sedari dulu mempunyai
rumah. semoga proses pembangunan ini berjalan lancar dan rezeki kami berlimpah
ruah.
Ku-akhiri tulisan kecil ini dengan doa yang panjang. doa
yang kupercayai sampai pada Pemilik Kehidupan. diberikan-Nya aku kehidupan yang
tidak kurang kasih sayang, tercukupi kebutuhan, tercapainya keinginan,
kesehatan untuk seluruh yang kusayang. Dilimpahkan-Nya nikmat rezeki yang
melimpah, cinta yang sakral dan abadi, keturunan yang cerdas dan rupawan,
diberi-Nya ketabahan mengarungi bahtera rumah tangga. diberikan kelancaran
dalam setiap pekerjaan juga panjang usia hingga hari berikutnya bertemu kembali
pada tahun bintang.

0 comments:
Post a Comment