Sebuah
keluarga terbentuk di satu dokumen bernama kartu keluarga. saat namanya dan
namaku sudah menjadi sepasang suami istri. agama mengakui, negara pun demikian.
yah, dan aku menikmatinya. aku rasa dia memang terlahir untukku dan aku
terlahir untuknya. ikatan batin yang begitu kuat, sifat keras yang memuakkan,
kesedihan yang dulu tidak pernah menemukan jalan keluar. kehadirannya, membawa
harapan. aku tidak memandang materi atau fisiknya. aku hanya memerhatikan dan
mengagumi bagaimana Semesta ciptakan dirinya. perasaan ini masih sama, kasih,
sayang, juga cinta yang memadai.
Kami
tidak terburu-buru, maksudku untuk memiliki keturunan. kami tidak mencegah,
tidak pula bergegas. Semesta tau apa yang terbaik, dari waktu dan upaya. ini masuk
bulan kedua pernikahan kami, doaku semoga
kami berjodoh hingga akhir hayat. hanya terpisahkan oleh maut dan bukan
karena urusan duniawi. agar setidaknya, sekali seumur hidup aku merasakan
keutuhan untuk diriku, untuk dirinya, juga untuk buah hati kita nantinya.
Sebab
keluarga sangat berarti. kami tidak berasal dari keluarga bahagia yang lengkap
dan harmonis dalam satu rumah. tapi dari keretakan itu, aku belajar banyak. ego
dan ekonomi harus ditunjang dengan tanggung jawab juga moral. selama dia menghidupi,
menafkahi, mencintai dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami, aku
akan selalu menjaga nama baiknya di luar sana. walaupun aku memilki kesempatan
untuk menceritakan ketidaksempurnaan suamiku, aku akan tetap menyimpannya
rapat. membicarakan hal itu hanya kepada dirinya seorang.
Tempatku
mengutarakan segala kegundahan pekerjaan itu padanya. aku tidak menyangka akan
sejauh ini. maksudku, keisengan ini membawa diriku ke sebuah tempat bernama
rumah. membentuk keluarga. tidur hingga bangun kembali menatap wajahnya. aku
merasa aman, dengan segala maskulinitasnya. kekuatan, ketegasan, kemandirian,
juga keberanian yang dimilikinya. dia merangkul kerapuhan diriku, sifat mudah
ngambek dan cengeng yang melekat padaku, diterimanya sebagai bagian dari diriku.
aku mendefinisikan cinta dengan bahasa yang sudah berbeda. bukan lagi soal
pernyataan dan perasaan belaka, tapi mencakup kerja keras, tanggung jawab, juga
komitmen menggenapi ucapan.
Cinta
sesederhana bagaimana perilaku yang lembut bertindak di saat memiliki kendali
untuk berdebat. cinta sesederhana mengajak beribadah untuk mengenal lebih dekat
Tuhan kita. cinta sesederhana memberikan
telinga untuk cerita dengan saksama yang keluar dari mulut kita. cinta
sesederhana memenuhi kebutuhan dan mengusahakan keinginan kita bersama. cinta
sesederhana menghidupkan tawa dan meredam amarah di dada.
Usia
kami hanya bertaut satu tahun, tapi aku mengagumi kedewasaannya mengelola
emosi. aku percaya dia yang menjalankan kemudi kapal ini berlayar akan
sejahtera. aku rasa bukan karena dia tidak memiliki kekurangan, bukan juga aku
terlalu memujanya, tapi memang kami ditakdirkan untuk saling melengkapi.
sehingga, dari pandangan luar kami serasi, kami bahagia, kami saling mengasihi,
kami berhasil membentuk satu kata bernama keluarga.

0 comments:
Post a Comment