Spasi bersaksi
Ketika matahari
mengintip lewat ventilasi
Angin bersenandung
memecah sepi
Daun perlahan
menggugurkan diri
Jatuh berhamburan
melepas janji
Ketika jiwanya mencoba
merangkul bumi
Di sana terdengar
tangisnya pertama kali
Pecah bersama arus
sungai dalam sanubari
Jemari mungilnya
bergerak menelisik setiap kasih
Wajah merahnya memagut
rintih
Ia Bernapas
Ketika jantungnya
perlahan berdetak sempurna
Kakinya kebas menendang
udara
Ketika denyut nadinya
mulai mengatur irama
Kulit lembutnya dibelai
mesra oleh sang mama
Mengundang sukacita dan
haru bahagia
Menawar duka dari juang
panjang dalam kandungan
Ia tenang dalam dekapan
orang tersayang
Semesta menyambutnya
Menjadi lakon utama pada
jalan yang dipilihnya
Ia punya telinga
mendengar cerita
Dalam pikirnya ada
banyak tanya
Dalam benaknya ada
banyak pinta dan asa
Ia sering meremuk
dirinya karena rasa bersalah
Tapi pada akhirnya
memilih terus tumbuh alih-alih patah
Di batas cakrawala
Ceritakan padaku masa
kecilnya
Bagaimana perasaannya
berhasil mengendarai sepeda kali pertama ?
Mengenakan seragam
merah-putih dengan tas di punggungnya
Ekspresi ketika
bernyanyi di depan teman kelasnya
Apakah ia sering mimisan
? bermain layangan ?
Balapan lari di
lapangan?
Adu tamiya dengan kawan
sepermainan ?
Jajan di pinggir jalan ?
atau bawa kotak makanan ?
Apa ia anak pendiam yang
menghabiskan waktu di depan kartun kesukaan ?
Ceritakan padaku masa
remajanya
Pada kisah cinta
pertamanya
Kenakalan khas di
belasan usia
Adu jotos dengan kawan
sebaya
Bandelnya di sekolah
Jarangnya pulang ke
rumah
Berandalnya di jalanan
Diamnya melamun di
pojokan
Umpatannya ketika
dihadapkan kekesalan
atau tingkah absurdnya
ketika sedang bosan
Ceritakan padaku masa
dewasanya
Dari kegemarannya pada
nikotin dan kafein
Kebiasaannya tidur di
pagi hari
Kupinta sedikit rasa
sakitnya
Aku penasaran bagaimana
ia terus berpura sedang baik saja
Beritahu padaku
kesedihan terdalamnya
Kisah di balik
pengasingan dirinya
Kenapa setiap berbincang
harus diikuti tawa
Kita pernah makan siang
bersama, apakah menatap kucing menjadi favoritnya?
Ada sedikit tahu
Kesukaannya jingga, bukan
biru
Ah, sayang sekali !
bagiku ia sendiri adalah candu
Hei… langit April tengah
bersemu !
Menampilkan semburat
kuning-merah-orange atau ungu
Menyaksikan senyum dan
rona di pipinya
Seakan tak jemu
Merindui obrolan kecil
diantara debar dan malu
Entah ingin mengusir
resah atau menepis ragu
Cahaya matanya
berbinar, redup
Senyumnya menggulung
tipis, sejuk
Suaranya meletup, sayup
Tawanya
bergemuruh, hidup
Raut wajahnya
bertanya-tanya, “ada apa?”
Selamat hari istimewa,
manusia keras kepala
Panjang umur, sehat
selalu ya!
Ternate / 25 April 2020
.jpg)
1 comments
Woooww kereeen
ReplyDelete